Berita

Apa Guna Presiden Berkaca pada China?

SELASA, 28 DESEMBER 2010 | 11:21 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

RMOL. Mengapa demokrasi di Indonesia tidak berjalan seiring pembangunan kemakmuran? Selain karena disetir oleh modal, kemunduran ekonomi Indonesia juga dikarenakan ketidaktahuan para pemimpin daerah soal arah ekonomi bangsa.

"Persoalan di pusat memang mazhab ekonomi, tapi soal mazhab itu tidak dimengerti oleh para pimpinan daerah. Jadi persoalannya lebih parah. Misalnya, saat mereka hendak meningkatkan PAD (pendapatan asli daerah) mereka berpikir pendek dengan meningkatkan pajak. Pemimpin daerah tidak paham pajak itu sebenarnya apa?" tegas Direktur Eksekutif Econit Advisory Group, Hendri Saparini, saat berdialog dengan Rakyat Merdeka Online, sesaat lalu (Selasa, 28/12).

Hendri mengatakan, mazhab liberalisme ekonomi yang dijalankan pemerintah adalah cara untuk lepas tangan dari petanggungjawaban negara memakmurkan masyarakatnya. Dengan demokratisasi dan liberaliasasi di bidang ekonomi, pemerintah perannya semakin kecil. Misalnya, saat pemerintah pusat memutuskan meliberalisasi pendidikan.


"Saat biaya pendidikan di daerah meningkat, kepala daerah menyadari bahwa kebijakan ini sudah salah. Tapi yang hanya bisa dilakukan adalah protes pada presiden, atau alternatifnya, semaksimal mungkin pajak di daerah akan ditambah untuk kurangi biaya pendidikan, tapi dia tidak menyadari kalau itu merugikan,' jelas Hendri.

Liberalisasi ekonomi oleh pemerintah pusat itu juga yang mengakibatkan pemerintah daerah salah arah mengelola sumber daya alam (SDA)-nya. Daerah hanya mementingkan bisa mengekspor SDA asalkan mendapat ijin pemerintah pusat.

"Misalnya batubara. Kalau Pemda paham batubara itu untuk kepentingan dalam negeri maka dia akan mengontrol pertambangan tidak harus diekspor tapi digunakan untuk membangun dalam negeri dan daerah lainnya," ucap Hendri.

Hendri mengaku heran. Presiden selama ini seringkali meminta pata menterinya untuk menyontoh Republik Rakyat China dalam kebijakan ekonominya membangun negara. Tapi, apakah Presiden mengetahui bahwa kebijakan ekonomi pemerintahannya sangat berbeda dengan China?

"Sadar tidak pemerintah pusat bahwa di China untuk pembangunan infrastruktur negeri dan pendidikannya dikelola pemerintah pusat dan tidak diprivatisasi. Campur tangan pemerintah dalam pembangunan sangat besar. Sementara, pemerintah pusat disini lepas tangan dalam hal kepentingan publik," tegas Hendri. [ald]

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

Janggal, Purbaya Dipecat Setelah Mencopot Ratusan Pejabat Kemenkeu

Senin, 14 September 2026 | 21:57

UPDATE

Suahasil Puji Bea Cukai Setelah Purbaya Tersingkir, Ada Apa Nih?

Minggu, 20 September 2026 | 19:41

Tim Qonun Asasi Sebut Wacana Muktamar Ulang NU Tak Punya Dasar

Minggu, 20 September 2026 | 19:29

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Rusia Gelar Pemilu Parlemen di Wilayah Ukraina yang Diduduki

Minggu, 20 September 2026 | 18:48

Negosiasi dengan Houthi, Solusi Arab Saudi

Minggu, 20 September 2026 | 18:43

Datangi Pospera, Ratusan Warga Minta Turunkan Desil

Minggu, 20 September 2026 | 18:18

Honor Play 11 Resmi Meluncur, Bawa Baterai Jumbo 8.300 mAh

Minggu, 20 September 2026 | 18:06

Timur Tengah Memanas, Trump Cepat-cepat Tinggalkan Camp David

Minggu, 20 September 2026 | 17:50

Apa Itu Perairan Masalembo yang Dijuluki Segitiga Bermuda Indonesia?

Minggu, 20 September 2026 | 17:50

BNI dan Unpad Perkuat Ekosistem Kampus melalui Layanan Digital Terintegrasi

Minggu, 20 September 2026 | 17:28

Selengkapnya