Berita

Pemerintah RI Minta Greenpeace Transparan

SENIN, 04 OKTOBER 2010 | 15:16 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

RMOL. Sejumlah pejabat mendesak LSM lingkungan internasional Greenpeace untuk bersikap transparan terkait dugaan data palsu yang mereka gunakan untuk menyerang perusahaan-perusahaan di negara berkembang seperti Indonesia.

Desakan tersebut disampaikan oleh Wakil Menteri Perdagangan RI Mahendra Siregar, Ketua Harian Dewan Nasional Perubahan Iklim Rachmat WItoelar, Sekretaris Jenderal Kementerian Kehutanan Hadi Daryanto, dan Gubernur Riau Rusli Zainal di sela acara penandatanganan kerjasama proyek “Kampar Carbon Reserve” di Hotel Grand Hyyat, Jakarta, Senin (4/10).

Seperti diketahui, krediblitas Greenpeace sebagai aktivis internasional di bidang lingkungan belakangan dipertanyakan menyusul hasil audit International Trade Strategies Asia Pacific Global (ITS Global). Auditor independen yang berbasis di Melbourne, Australia itu merilis, bahwa selama ini Greenpeace sering menggunakan data palsu untuk menyerang perusahaan-perusahaan di beberapa negara berkembang, termasuk Indonesia.

Alan Oxley, Direktur ITS Global mengungkapkan, pihaknya telah mengkaji dokumen bulan Juli 2010 bertajuk “Bagaimana Sinar Mas Meluluhkan Bumi,” sebuah laporan yang memfokuskan sebagian besar perhatiannya pada praktik-praktik kehutanan yang berkelanjutan dari Asia Pulp & Paper (APP) yang berbasis di Jakarta. Menurut Oxley, audit tersebut secara sistematis menganalisis 72 klaim Greenpeace terhadap APP yang mencakup lebih dari 300 catatan kaki dan sekitar 100 referensi.

“Pemeriksaan yang cermat atas bukti tersebut menunjukkan bahwa laporan Greenpeace tersebut sangat menyesatkan dan sama sekali tidak dapat dipertahankan. Klaim tentang ekspansi perusahaan besar-besaran secara rahasia di Indonesia didasarkan pada informasi fiktif. Dan informasi yang mendukung dugaan bahwa perusahaan terlibat dalam praktik kehutanan ilegal pada lahan gambut adalah tidak berdasar maupun merupakan kesalahan yang sangat serius,” tegas Oxley.

Menanggapi hal ini, Wakil Menteri Perdagangan RI Mahendra Siregar mendesak agar Greenpeace segera mengumumkan data yang digunakan terkait kerusakan hutan Indonesia. Menurut Mahendra, bukti valid tentang adanya kerusakan hutan di Indonesia harus segera dikeluarkan Greenpeace.

Hal ini, menurut Mahendra, sangat penting agar kredibilitas Greenpeace tidak melorot. Dengan kata lain, adanya transparansi data yang digunakan Greenpeace pantas diketahui publik. “Segera berikan bukti dan data valid kalau memang hutan Indonesia mengalami kerusakan,” tandas Mahendra kepada wartawan, di Jakarta, Senin (4/10).

Mahendra menambahkan, dunia industri dan perdagangan di Indonesia sejak lama telah menerapkan prinsip kepercayaan. Sehingga, seluruh stakeholder mempunyai tanggung jawab yang sama terhadap kelestarian lingkungan. “Untuk itu, kita jangan saling menjelek-jelekkan satu sama lain,” tambahnya. [guh]


Populer

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Fuad Hasan Punya Peran Sentral Skandal Korupsi Kuota Haji

Kamis, 09 April 2026 | 16:31

UPDATE

Analis Ungkap 3 Faktor Penentu Reshuffle Kabinet di Era Prabowo Subianto.

Sabtu, 18 April 2026 | 09:43

Harga BBM Non Subsidi Naik, Perrtamax dan Dexlite Nyaris Rp24 Ribu per Liter

Sabtu, 18 April 2026 | 09:18

Menuju Kuartal II-2026: Sektor Furnitur Siap Ambil Alih Kendali Pertumbuhan

Sabtu, 18 April 2026 | 09:08

Harga Emas dan Perak Kompak Menguat di Penutupan Pekan

Sabtu, 18 April 2026 | 08:47

Trump Kembali Kecam NATO, Tegaskan AS Tak Butuh Bantuan di Selat Hormuz

Sabtu, 18 April 2026 | 08:30

Harga Minyak Anjlok setelah Hormuz Dibuka

Sabtu, 18 April 2026 | 08:17

Wall Street Hijau: Nasdaq Terbang Tinggi

Sabtu, 18 April 2026 | 08:03

Sempat Viral, Ini Fakta di Balik Visual Balita pada Kemasan AMDK

Sabtu, 18 April 2026 | 07:55

Bursa Eropa Menghijau Efek Pembukaan Kembali Selat Hormuz

Sabtu, 18 April 2026 | 07:41

Hormuz Dibuka tapi AS Tetap Menekan Iran

Sabtu, 18 April 2026 | 07:18

Selengkapnya