Berita

PKS Ingatkan SBY tentang Triggering Factor, Persaingan Elit dan Budaya Politik Feodal

RABU, 01 SEPTEMBER 2010 | 12:08 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

RMOL. Ada tiga hal yang bila tidak diperhatikan Presiden SBY akan membawa Indonesia ke jurang kehancuran. Ketiga hal ini membutuhkan strong leadership, bukan pemerintahan yang lembek yang hanya peduli pada pencitraan.

Menurut anggot Majelis Pertimbangan Partai PKS, Soeripto, ketiga hal itu adalah faktor yang memicu kerusuhan sosial, persaingan di kalangan dan budaya politik feodal.

Soeripto mengutip pandangan teoretisi sosial Neil Smelser tentang collective behaviour, yang mengatakan bahwa masyarakat membutuhkan faktor pemicu bila keadaan sudah matang dan memungkinkan kerusuhan.

“Saat ini kita bisa melihat bahwa kekerasan di masyarkat sudah menemukan justifikasi. Ada structural strain atau ketidakadilan yang nyata. Masyarakat juga memiliki tentang persoalan-persoalan yang nyata itu. Ini artinya sarana untuk memobilisasi massa juga sudah tersedia. Belum lagi, pemerintah gagal mengontrol keadaan. Kerusuhan seakan dibiarkan. Yang dibutuhkan saat ini adalah hal terakhir, yaitu triggering factor,” ujarnya kepada Rakyat Merdeka Online.

Siapa yang akan menarik picu?

Menurut Soeripto bisa saja yang memiliki kesiapan untuk mengendalikan keadaan selama dan pasca krisis.

Hal kedua yang diingatkan Soeripto adalah fenomena truf wars atau persaingan politik terbuka di kalangan elit dan institusi negara. Misalnya di antara penegak hukum, KPK, Polri dan Kejaksaan Agung. Juga antara sesama petinggi Polri, atau antara Polri dan TNI. Konflik juga terjadi pada dimensi pusat dan daerah. Pun antara legislatif dan eksekutif, seperti dalam kasus skandal Century.

Hal terakhir, berkaitan dengan budaya politik feodalistik yang masih mengemuka dan kental di pusat pemerintahan.

“Yang penting di kalangan elit saat ini adalah asal bapak senang,” demikian Soeripto. [guh]


Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Sopir BYD Penyebab Tabrakan Beruntun di Jaksel jadi Tersangka

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:52

Asuransi Tugu Pratama Indonesia Digugat Rp3,51 Miliar ke PN Jaksel

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:27

Sukseskan Kemandirian Pangan, Petani Adat Wanam Butuh Pendampingan

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:10

DPO Illegal Tapping Pertamina EP Jambi Sukses Diringkus Berkat Sinergitas

Senin, 26 Oktober 2026 | 04:50

TNI Kirim 4,6 Ton Dry Ice ke Banjarmasin dan Palembang Sukseskan OMC Akhiri Karhutla

Senin, 26 Oktober 2026 | 04:25

Refleksi Kisah Nabi Musa AS dan Fir'aun dalam 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

Senin, 26 Oktober 2026 | 03:34

Walkot Bandung Kedepankan Koordinasi Sikapi Bentrokan Berdarah Pasar Caringin

Senin, 26 Oktober 2026 | 03:14

Startup Binaan IPB Raih Potensi Kerja Sama Rp1 Miliar Tembus Pasar Oman

Senin, 26 Oktober 2026 | 02:47

Dari Nasionalisme ke Tata Kelola dan Reformasi Pasar Modal Indonesia

Senin, 26 Oktober 2026 | 02:17

Boris Tampubolon Beri Tiga Alasan Pasal Kerugian Negara Harus Direvisi

Senin, 26 Oktober 2026 | 01:43

Selengkapnya