Pelemahan harga komoditas, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Prancis, serta ketidakpastian geopolitik membayangi pergerakan pasar di kawasan tersebut.
Indeks Stoxx 600 dan Euro Stoxx 50 masing-masing turun sekitar 0,5 persen, meski berhasil memangkas sebagian kerugian setelah sempat menyentuh level terendah intraday. Bursa Inggris dan Spanyol mencatat penurunan lebih besar, sementara Jerman dan Prancis melemah lebih terbatas. Pasar saham Italia relatif tidak berubah.
Sektor sumber daya dasar menjadi penekan utama setelah terkoreksi hampir 2 persen. Melemahnya harga emas, perak, dan tembaga di tengah ketidakpastian diplomasi Amerika Serikat (AS) dan Iran memicu tekanan terhadap saham-saham pertambangan.
Saham energi juga kehilangan tenaga seiring penurunan harga minyak mentah untuk hari kedua. Sektor minyak dan gas terkoreksi hampir 1 persen, sementara saham ritel turun lebih dari 1,5 persen. Saham teknologi turut melemah sekitar 0,9 persen, antara lain dipicu penurunan SAP sekitar 2 persen dan koreksi ASML.
Di tengah pelemahan tersebut, Bayer justru melonjak lebih dari 4,5 persen setelah menaikkan proyeksi laba 2026. Philips menguat hampir 5 persen setelah mencatat laba di atas ekspektasi pasar. LVMH juga naik sekitar 2 persen.
Di Prancis, indeks CAC 40 turun 0,3 persen ke level 8.020. Sentimen negatif datang dari memburuknya prospek fiskal negara tersebut setelah Fitch mengubah outlook Prancis menjadi negatif.
Fitch menyoroti tekanan keuangan publik, tingginya utang pemerintah dan biaya pinjaman, pertumbuhan ekonomi yang lesu, serta ketidakpastian politik. Kondisi anggaran turut memperkuat kekhawatiran tersebut. Defisit Prancis mencapai 159,2 miliar Euro pada Januari-September 2026, meningkat dari 155,4 miliar Euro pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Tekanan terlihat pada sejumlah saham unggulan. Airbus turun 1,4 persen, Safran melemah 1,1 persen, sedangkan EssilorLuxottica dan Vinci masing-masing terkoreksi 1,4 persen. Hermès turun 0,6 persen dan L'Oréal melemah 0,9 persen.
Sebaliknya, LVMH mencatat penguatan 2 persen. Meski demikian, saham perusahaan barang mewah tersebut masih tertekan sekitar 40 persen sejak awal tahun akibat perlambatan permintaan dari Tiongkok. Saham TotalEnergies juga turun 1,1 persen mengikuti pelemahan harga minyak.
Sementara itu, FTSE 100 Inggris mengalami koreksi lebih dalam, yakni 1 persen, sekaligus menyentuh level terendah dalam tiga pekan. Penurunan harga komoditas menjadi faktor utama yang membebani indeks tersebut.
Endeavour merosot lebih dari 4 persen, disusul Antofagasta yang turun sekitar 3,5 persen dan Glencore sebesar 2,8 persen. Anglo American dan Rio Tinto juga kehilangan lebih dari 1,5 persen. Saham perusahaan energi Shell dan BP masing-masing terkoreksi sekitar 1,5 persen dan 2 persen.
Tekanan juga datang dari saham konsumer. Unilever turun sekitar 1 persen setelah mengumumkan rencana memangkas biaya sebesar 1 miliar Euro hingga akhir 2029. Associated British Foods dan Coca-Cola Europacific Partners turut melemah setelah merilis laporan terbaru.
Di tengah dominasi tekanan jual, Hiscox bergerak berlawanan arah dengan menguat lebih dari 2 persen. Perusahaan asuransi tersebut melaporkan kenaikan premi bruto tertulis sebesar 9,5 persen selama sembilan bulan pertama 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Investor masih mencermati perkembangan geopolitik dan arah kebijakan ekonomi AS. Pemilihan paruh waktu AS menjadi salah satu perhatian pasar karena hasilnya dapat menentukan komposisi kekuatan di Kongres dan memengaruhi arah politik pemerintahan.
BERITA TERKAIT: