Bahlil Target Bangun Storage Minyak Sumatera untuk Cadangan 60 Hari

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/hani-fatunnisa-1'>HANI FATUNNISA</a>
LAPORAN: HANI FATUNNISA
  • Selasa, 03 November 2026, 17:53 WIB
Bahlil Target Bangun Storage Minyak Sumatera untuk Cadangan 60 Hari
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia (Foto: BPMI Setpres)
Kecil Besar
rmol news logo Pemerintah berencana membangun sejumlah fasilitas penyimpanan (storage) minyak mentah atau crude oil di wilayah Sumatera. 

Menteri ESDM sekaligus Menko Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia mengatakan, fasilitas tersebut ditargetkan mampu menampung cadangan minyak untuk kebutuhan lebih dari 20 hari. 

Dia bahkan membidik kapasitas penyimpanan hingga mencukupi kebutuhan selama 60 hari.

"Kita akan membangun storage beberapa di wilayah Sumatra untuk ketika kita melakukan import crude, itu semuanya bisa ada tempatnya di atas 20 hari. Target kita bisa sampai dengan 60 hari," kata Bahlil usai menghadiri rapat terbatas ekonomi yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa, 3 November 2026.

Terkait progres persiapan, Bahlil mengungkapkan studi kelayakan atau engineering feasibility study (EFS) telah rampung. 

Selanjutnya, pemerintah akan melakukan peninjauan lokasi pada akhir tahun ini dengan mempertimbangkan sejumlah aspek, mulai dari potensi kerawanan gempa hingga keamanan di lingkungan sekitar.

"Di akhir tahun ini akan memulai untuk kita ngecek lokasinya dari sisi keamanan baik dalam kontes gempanya maupun keamanan lokalnya," jelasnya.

Bahlil menambahkan, pemerintah juga berupaya meningkatkan kapasitas penyimpanan minyak nasional agar mendekati standar minimum dunia yang mencapai 90 hari. 

Target tersebut menjadi acuan dalam memperkuat cadangan energi nasional guna mengantisipasi berbagai risiko terhadap pasokan minyak.

"Standar minimum dunia itu kan di 3 bulan, 90 hari. Jadi kita akan mendekati ke sana. Minimal kalau tidak sama, minimal mendekati ke sana," ucap Bahlil.

Selain pembangunan storage, Presiden Prabowo turut menanyakan kesiapan implementasi mandatori campuran bioetanol E20 hingga E50 sebagai bagian dari strategi ketahanan energi. 

Bahlil mengatakan, pihaknya telah menyiapkan rencana strategis bersama Menteri Pertanian karena pengembangan bahan baku membutuhkan kolaborasi dari sektor hulu. Sementara itu, kebijakan biodiesel B50 tetap dipertahankan di tengah ketidakpastian geopolitik global.

"Dan menyangkut dengan B50 tetap kita pertahankan, karena ini adalah geopolitik yang tidak pernah kita tahu ujungnya kemana," pungkas Bahlil.rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA