IHSG Terpukul di Awal Perdagangan, Sempat Anjlok 1,46 Persen

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Senin, 02 November 2026, 09:29 WIB
IHSG Terpukul di Awal Perdagangan, Sempat Anjlok 1,46 Persen
Ilustrasi
Kecil Besar
rmol news logo Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan pekan ini di zona merah. Tekanan jual yang muncul sejak pembukaan membuat indeks sempat merosot hingga 1,46 persen sebelum berupaya memangkas pelemahannya.

Berdasarkan data Stockbit, IHSG dibuka pada level 5.039,54 pada perdagangan Senin pagi, 2 November 2026, turun 0,35 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi 5.057,05.

Tekanan semakin dalam pada awal perdagangan. Sekitar pukul 09.03 WIB, IHSG sempat menyentuh level 4.981,52. Pada posisi tersebut, indeks tercatat melemah 74,04 poin atau 1,46 persen.

Namun, tekanan mulai mereda menjelang pukul 09.05 WIB. IHSG bergerak naik ke level 5.015,79, meski masih terkoreksi 41,26 poin atau 0,82 persen.

Dari sisi aktivitas transaksi, hingga pukul 09.05 WIB volume perdagangan mencapai 30,19 juta lot dengan nilai transaksi sebesar Rp941,99 miliar.

Mengacu pada data Refinitiv, tekanan terhadap IHSG berasal dari pelemahan sejumlah sektor. Sektor infrastruktur mencatatkan penurunan terdalam sebesar 4 persen. Berikutnya, sektor barang baku melemah 1,8 persen dan sektor energi turun 1,6 persen.

Sejumlah saham berkapitalisasi besar turut menjadi pemberat indeks, di antaranya PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT).

Di sisi lain, beberapa saham tercatat memberikan kontribusi penahan koreksi IHSG, yakni PT Capital Financial Indonesia Tbk (CASA), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), PT Astra International Tbk (ASII), PT Apollo Global Interactive Tbk (APGI), dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP).

Pergerakan pasar saham pada awal November juga akan dipengaruhi sejumlah agenda ekonomi dan politik, baik dari dalam maupun luar negeri. Investor mencermati berbagai indikator yang berpotensi memengaruhi pergerakan rupiah, IHSG, imbal hasil obligasi, hingga arus modal asing.

Dari dalam negeri, perhatian tertuju pada rilis data inflasi, pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026, neraca perdagangan, dan cadangan devisa. Sementara dari Amerika Serikat (AS), agenda pemilu sela, data ketenagakerjaan, serta aktivitas manufaktur menjadi sejumlah faktor yang akan dicermati pelaku pasar. rmol news logo article


Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: RENI ERINA
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA