BSDE Kantongi Marketing Sales Rp7,53 Triliun, Pendapatan Malah Turun

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Sabtu, 31 Oktober 2026, 07:54 WIB
BSDE Kantongi Marketing Sales Rp7,53 Triliun, Pendapatan Malah Turun
Ilustrasi (Artificial Intelligence)
Kecil Besar
rmol news logo PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) mencatatkan pertumbuhan prapenjualan atau marketing sales sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Namun, peningkatan penjualan tersebut belum sejalan dengan kinerja keuangan perseroan. Pendapatan usaha dan laba bersih justru mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat 30 Oktober 2026, BSDE membukukan marketing sales Rp7,53 triliun hingga September 2026. Realisasi tersebut meningkat 6 persen dibandingkan Rp7,10 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Capaian itu setara dengan 75 persen dari target marketing sales sepanjang 2026 sebesar Rp10 triliun. Pertumbuhan terutama ditopang segmen residensial yang mencatatkan prapenjualan Rp3,92 triliun, meningkat 25 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Kontribusinya mencapai 52 persen dari total marketing sales.

Sementara itu, segmen komersial menyumbang Rp3,25 triliun atau sekitar 43 persen. Kontribusi tersebut berasal dari penjualan ruko sebesar Rp1,73 triliun, kavling komersial Rp1,17 triliun, serta apartemen Rp342 miliar.

Dari sisi lokasi, BSD City masih menjadi pusat penjualan dengan kontribusi sekitar 68 persen. Proyek Nava Park menyumbang 14 persen, Grand Wisata Bekasi 11 persen, Kota Wisata Cibubur 7 persen, dan Hiera 5 persen.

Direktur BSDE Hermawan Wijaya mengatakan, pencapaian prapenjualan tersebut didukung kontribusi segmen residensial dan komersial serta portofolio proyek perseroan.

Meski demikian, pertumbuhan marketing sales belum tercermin dalam pendapatan yang diakui dalam laporan keuangan. Hingga September 2026, pendapatan usaha BSDE tercatat Rp7,54 triliun, turun 14 persen dibandingkan Rp8,76 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Laba Bersih Tertekan Beban Keuangan

Penurunan pendapatan turut memengaruhi sejumlah indikator profitabilitas perseroan. Laba kotor BSDE turun 9 persen menjadi sekitar Rp5,03 triliun, sedangkan laba usaha menyusut 20 persen menjadi Rp1,71 triliun.

Tekanan lebih dalam terlihat pada laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk. Nilainya tercatat Rp844,70 miliar, merosot 38,05 persen dibandingkan Rp1,36 triliun pada sembilan bulan pertama 2025.

Salah satu faktor yang membebani keuntungan adalah tingginya beban keuangan. Berdasarkan rincian laporan keuangan, beban bunga dan keuangan mencapai sekitar Rp1,29 triliun. Selain itu, perseroan juga mencatat kerugian pelepasan entitas anak sekitar Rp30,58 miliar.

Jika ditelusuri berdasarkan sumber pendapatan, pengembangan properti masih menjadi penyumbang utama dengan porsi sekitar 80 persen dari total pendapatan. Namun, pendapatan residensial justru turun 30 persen menjadi Rp2,36 triliun.

Sebaliknya, pendapatan komersial tumbuh 21 persen menjadi Rp2,73 triliun. Kenaikan ini terutama ditopang pengakuan pendapatan dari penjualan ruko yang meningkat 37 persen menjadi Rp2,28 triliun.

Di luar penjualan properti, bisnis pendapatan berulang (recurring revenue) memberikan kontribusi sekitar 20 persen atau Rp1,53 triliun. Nilainya tumbuh 19 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Pendapatan sewa mencapai Rp909 miliar, meningkat 19 persen. Sementara itu, pendapatan dari layanan jalan tol naik 20 persen menjadi sekitar Rp90 miliar, seiring peningkatan lalu lintas di ruas Tol Serpong-Balaraja dan beroperasinya Seksi 1B.

Dari sisi operasional, BSDE mulai memperlihatkan perbaikan secara kuartalan. Pendapatan usaha pada kuartal III-2026 mencapai Rp2,79 triliun, naik 17 persen dibandingkan kuartal II-2026 sebesar Rp2,38 triliun. Margin laba kotor juga meningkat menjadi 67 persen dari 63 persen pada kuartal III-2025.

Adapun posisi keuangan per 30 September 2026 menunjukkan total aset BSDE mencapai Rp81,45 triliun, meningkat 3 persen dibandingkan akhir 2025. Total liabilitas tercatat Rp28,18 triliun, sedangkan ekuitas mencapai Rp53,26 triliun. rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: RENI ERINA
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA