KDMP dan KNMP Berpotensi Besar Perkuat Ekonomi Masyarakat

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/adityo-nugroho-1'>ADITYO NUGROHO</a>
LAPORAN: ADITYO NUGROHO
  • Jumat, 30 Oktober 2026, 03:23 WIB
KDMP dan KNMP Berpotensi Besar Perkuat Ekonomi Masyarakat
Ilustrasi. (Foto: AI)
Kecil Besar
rmol news logo Program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) memiliki potensi besar untuk memperkuat ekonomi masyarakat desa dan pesisir. 

Kedua program tersebut dinilai dapat menjadi instrumen strategis untuk mendorong kemandirian ekonomi, memperluas peluang usaha, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat apabila dijalankan dengan tata kelola yang baik dan sesuai kebutuhan di lapangan.

Hal itu disampaikan Direktur Eksekutif Human Studies Institut (HSI), Rasminto dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Evaluasi Implementasi Program Prioritas Nasional di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta” yang diselenggarakan di Aula Perpustakaan Kampus INSTIPER Yogyakarta, Kamis, 29 Oktober 2026.

“KDMP dan KNMP memiliki potensi besar untuk memperkuat ekonomi masyarakat. Namun, keberhasilannya perlu dilihat dari manfaat nyata yang dihasilkan, mulai dari berkembangnya aktivitas usaha, meningkatnya nilai tambah ekonomi, hingga kemampuan masyarakat mengelola potensi lokal secara mandiri dan berkelanjutan,” ujar Rasminto.

Menurutnya, KDMP memiliki posisi strategis karena koperasi dapat menjadi wadah bagi masyarakat desa untuk mengembangkan usaha bersama, memperkuat posisi tawar pelaku ekonomi kecil, serta memperpendek rantai distribusi barang dan jasa. Apabila dikelola secara profesional, koperasi juga dapat membuka akses yang lebih luas terhadap permodalan, pemasaran, dan jaringan usaha.

"Namun, potensi tersebut hanya dapat diwujudkan apabila pengelolaan koperasi berangkat dari kebutuhan riil masyarakat, didukung model bisnis yang layak, serta menerapkan prinsip transparansi dan akuntabilitas," jelasnya. 

Rasminto mencontohkan dinamika pelaksanaan KDMP di sejumlah desa di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Berdasarkan temuan lapangan yang dibahas dalam evaluasi, terdapat KDMP yang telah menjalankan aktivitas usaha dengan dukungan kemitraan permodalan dari entitas BUMD. 

"Di sisi lain, terdapat pula koperasi yang bangunan fisiknya telah tersedia, tetapi belum beroperasi dan masih menunggu peluncuran atau peresmian," ungkap dia. 

Menurutnya, perbedaan kondisi tersebut menunjukkan pentingnya memastikan kesiapan operasional, kejelasan tata kelola, dan kesinambungan usaha dalam pelaksanaan program.

“Perbedaan kesiapan antardesa perlu menjadi bahan pembelajaran. Desa yang sudah menjalankan usaha dapat menjadi sumber praktik baik, sedangkan desa yang belum beroperasi perlu mendapatkan pendampingan sesuai kendalanya, apakah terkait pengurus, permodalan, model bisnis, atau koordinasi. Dengan begitu, pembangunan fasilitas dapat diikuti oleh kegiatan ekonomi yang benar-benar berjalan,” jelasnya lagi.

Ia menegaskan, dukungan permodalan dari perbankan merupakan salah satu faktor yang dapat membantu pengembangan usaha koperasi. 

"Meski demikian, akses modal harus disertai perencanaan usaha yang realistis, kemampuan pengelola, dan perhitungan risiko agar koperasi tidak sekadar memiliki modal, tetapi juga mampu menghasilkan pendapatan dan menjaga keberlanjutan usahanya,” tutur dia. 

Lebih jauh, Rasminto mengingatkan bahwa KDMP perlu tetap berpegang pada nilai luhur koperasi, terutama gotong royong, kekeluargaan, demokrasi ekonomi, dan kesejahteraan bersama.

“Koperasi tidak boleh hanya menjadi lembaga yang dibentuk untuk memenuhi target program. Esensinya adalah usaha bersama yang dikelola dengan partisipasi anggota dan memberikan manfaat bagi mereka. Pemerintah desa dapat memfasilitasi, tetapi partisipasi masyarakat, transparansi, dan profesionalisme pengelolaan harus menjadi fondasi,” tegasnya.

Selain KDMP, Rasminto menilai KNMP memiliki peluang besar untuk meningkatkan produktivitas sektor perikanan, memperbaiki kualitas lingkungan permukiman pesisir, dan memperkuat kesejahteraan keluarga nelayan.

Ia merujuk pada masukan sejumlah nelayan di kawasan Pantai Pasir Kebumen yang menilai perubahan paling terlihat dari pelaksanaan KNMP sejauh ini adalah lingkungan kampung yang lebih tertata. 

"Sementara itu, perubahan pada pola bisnis, akses pemasaran, dan manfaat ekonomi bagi nelayan dinilai belum cukup terasa," katanya. 

Rasminto menilai masukan tersebut penting untuk dijadikan bahan evaluasi, meskipun diperlukan pengukuran lebih lanjut untuk memastikan dampak program terhadap pendapatan dan kesejahteraan nelayan secara menyeluruh.

“Pembenahan lingkungan tentu merupakan hal positif. Namun, manfaat KNMP akan lebih besar apabila diikuti peningkatan produktivitas, akses pasar yang lebih baik, penguatan posisi tawar nelayan, serta berkembangnya usaha pengolahan hasil perikanan. Infrastruktur perlu menjadi sarana untuk menggerakkan ekonomi, bukan tujuan akhir pembangunan,” bebernya.

Rasminto berharap KDMP dapat berkembang sebagai lembaga ekonomi yang memperkuat kemandirian desa, sedangkan KNMP mampu mendorong produktivitas dan nilai tambah ekonomi masyarakat pesisir.

“Potensi KDMP dan KNMP sangat besar. Kuncinya adalah memastikan tata kelola berjalan baik, masyarakat terlibat aktif, dan program benar-benar menjawab kebutuhan ekonomi mereka. Jika nilai gotong royong dalam koperasi diterapkan secara konsisten dan pembangunan kampung nelayan terhubung dengan penguatan usaha, manfaatnya akan semakin bermakna bagi kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya. rmol news logo article


Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA