AI Tak Hapus Pekerjaan, Korporasi Indonesia Justru Perluas Otomasi Keuangan

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/sarah-alifia-suryadi-1'>SARAH ALIFIA SURYADI</a>
LAPORAN: SARAH ALIFIA SURYADI
  • Kamis, 29 Oktober 2026, 17:50 WIB
AI Tak Hapus Pekerjaan, Korporasi Indonesia Justru Perluas Otomasi Keuangan
Head of Global Payments Solutions HSBC Indonesia Anne Suhandojo (kanan), Direktur Keuangan (CFO) Shipper Group Leonard Pontoh (tengah) dan Head of Finance ATIC Group (PT Anabatic Technologies Tbk) Minto Hartati (kiri). (Foto: Istimewa)
Kecil Besar
rmol news logo Adopsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di perusahaan tidak serta-merta menghilangkan peran tenaga kerja. 

Teknologi ini justru dimanfaatkan untuk mengotomatisasi pekerjaan administratif dan meningkatkan produktivitas, sementara manusia tetap dibutuhkan untuk mengawasi proses serta mengambil keputusan.

Country Head of Global Payments Solutions HSBC Indonesia, Anne Suhandojo, menjelaskan bahwa AI dapat membantu perusahaan mempercepat berbagai proses keuangan, mulai dari pengolahan data hingga rekonsiliasi transaksi.

"AI bisa melakukan analisa, bisa melakukan rekomendasi, bisa melakukan review, tapi orang tetap berperan penting dari sisi pengambilan keputusan," kata Anne dalam pemaparan survei HSBC kepada insan pers di Jakarta, Kamis, 29 Oktober 2026.

Dalam survei HSBC Redefining Treasury in Asia Pacific: Voices of Treasury 2026, sebanyak 93 persen responden Indonesia menyatakan sudah menggunakan AI. 

Sebanyak 55 persen memanfaatkannya untuk meningkatkan produktivitas, sedangkan 34 persen telah menggunakan AI agent untuk mengotomatisasi proses bisnis.

Penerapan teknologi tersebut juga dirasakan perusahaan teknologi logistik Shipper. Chief Financial Officer (CFO) Shipper, Leonard Pontoh, mengatakan AI membantu perusahaan menangani dokumen penagihan dari klien yang memiliki standar berbeda-beda.

"AI sangat membantu kita untuk menstandarkan hal yang tidak standar," ujar Leonard.

Menurutnya, pemanfaatan AI juga membantu proses pembayaran kepada vendor yang mengirimkan dokumen dengan format beragam. Dokumen tersebut diolah menjadi laporan yang lebih seragam sehingga mempercepat rekonsiliasi dan pembayaran.

"Dari sisi penagihan sendiri kita sudah pasti menggunakan AI," katanya.

Hal serupa diterapkan PT Anabatic Technologies Tbk (ATIC). Head of Finance perusahaan tersebut, Minto Hartati, mengatakan AI mulai digunakan untuk membantu pekerjaan administrasi keuangan, terutama pengolahan invoice yang sebelumnya direkap secara manual menggunakan Excel.

"Dalam sehari, sebulan kita bisa terima sekitar 10 ribu invoice dari principal maupun dari vendor kita," ujar Minto.

Ia menjelaskan, dokumen digital yang masuk kini dapat diproses menggunakan AI untuk menghasilkan daftar invoice secara otomatis. Sebelumnya, tim keuangan harus mengetik dan merekap data tersebut secara manual untuk kebutuhan pembayaran dan pelaporan.

"Yang kita lakukan adalah sekarang semua invoice yang masuk dalam bentuk soft copy itu bisa dibantu dengan AI, jadi list yang dulunya kita buat secara manual, diketik manual sekarang bisa tergenerate otomatis," jelasnya.

Meski demikian, penerapan AI tidak sepenuhnya menghilangkan keterlibatan tenaga kerja. Minto mengatakan pengembangan sistem tetap membutuhkan koordinasi antara tim keuangan dan pengembang, termasuk pengujian serta evaluasi hasil.

"Journey-nya kira-kira dari pertama kali ngobrol sampai dibantu benar-benar serius dibikinin, itu sekitar 2-3 bulan," katanya.

Di Shipper, Leonard mengatakan implementasi AI juga melibatkan berbagai departemen untuk mengidentifikasi persoalan operasional dan menentukan prioritas pengembangan. Tim teknologi bertugas membangun kapabilitas AI, sedangkan unit bisnis terkait bertanggung jawab atas penerapannya.

"Jadi ini effort kolaborasi, sehingga kita bisa nyaman, comfortable untuk bisa go live dengan menggunakan AI," ujar Leonard.

Anne menambahkan, perusahaan juga perlu memperhatikan kualitas data, keamanan sistem, dan keterbatasan tenaga ahli dalam memperluas pemanfaatan AI. Karena itu, teknologi tersebut perlu ditempatkan sebagai alat pendukung yang tetap berada dalam pengawasan manusia.

"Human intervention adalah sangat penting," tegas Anne.rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA