Suroso Isnandar, dari Ruang Kendali Listrik ke Kursi Dirut PLN

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/diki-trianto-1'>DIKI TRIANTO</a>
LAPORAN: DIKI TRIANTO
  • Rabu, 14 Oktober 2026, 20:42 WIB
Suroso Isnandar, dari Ruang Kendali Listrik ke Kursi Dirut PLN
Suroso Isnandar Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN. (Foto: BPMI Setpres)
Kecil Besar
rmol news logo Suroso Isnandar dipercaya menjadi Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN menggantikan Darmawan Prasodjo melalui keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), Rabu, 14 Oktober 2026.

Meski telah menduduki posisi tertinggi di perusahaan listrik negara tersebut, Suroso masih merangkap sebagai Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PLN hingga ada keputusan pengganti.

Dilihat dari rekam jejaknya, Suroso merupakan profesional internal yang telah meniti karier selama lebih dari tiga dekade di sektor ketenagalistrikan.

Pengalaman Suroso mencakup pengelolaan pembangkitan dan penyaluran listrik, pengaturan beban sistem kelistrikan Jawa-Madura-Bali, transformasi digital, manajemen risiko, hingga pengembangan proyek energi baru terbarukan (EBT).

Suroso lahir di Klaten, Jawa Tengah, pada 12 Agustus 1971. Latar belakang akademik dan pengalaman teknisnya menjadi bekal dalam mengelola berbagai tantangan industri ketenagalistrikan nasional.

Lulusan ITB

Suroso menempuh pendidikan sarjana di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada bidang Power System Engineering dan lulus pada 1994. Ia kemudian melanjutkan pendidikan magister di University of Abertay, Dundee, Inggris mengambil bidang Power System Engineering and Management dan meraih gelar Master of Science pada tahun 1999.

Tak cukup magister, Suroso melanjutkan pendidikan doktoral di ITB. Pada 2025, ia meraih gelar doktor di bidang Teknik Elektro. Latar belakang pendidikan ini sejalan dengan perjalanan profesional yang bersinggungan dengan pengelolaan sistem tenaga listrik, keandalan pasokan, dan pengembangan infrastruktur energi.

Meniti Karier dari Operasional Kelistrikan

Perjalanan Suroso di PLN tidak hanya berkutat pada perencanaan di kantor pusat. Ia tercatat pernah memimpin unit strategis yang berhubungan langsung dengan pembangkitan, penyaluran, dan pengendalian sistem kelistrikan.

Periode 2019-2021, Suroso menjabat General Manager PLN Unit Induk Pembangkitan dan Penyaluran Sulawesi. Posisi tersebut memberinya pengalaman mengelola infrastruktur pembangkitan dan penyaluran listrik di wilayah Sulawesi.

Selanjutnya, pada periode 2021-2022, ia dipercaya menjadi General Manager PLN Unit Induk Pusat Pengatur Beban Jawa, Madura, dan Bali. Unit ini memiliki peran penting dalam pengaturan operasi sistem kelistrikan di wilayah Jawa, Madura, dan Bali. Pengelolaan beban dan keseimbangan pasokan menjadi bagian krusial untuk menjaga keandalan sistem listrik di kawasan dengan kebutuhan energi yang besar.

Suroso kemudian ditarik ke kantor pusat PLN untuk menjabat Kepala Satuan Digital dan Teknologi Informasi pada periode 2022-2023. Di posisi ini, praktis ia masuk di lingkup transformasi digital perusahaan.

Pada September 2023, Suroso diangkat menjadi Direktur Manajemen Risiko PLN. Ia menjalankan jabatan tersebut hingga Juni 2025. Posisi itu membawa Suroso dalam fungsi pengawasan dan pengelolaan risiko korporasi, termasuk kebutuhan untuk mengidentifikasi serta mengendalikan risiko yang dapat memengaruhi pencapaian target perusahaan.

Mengawal Proyek Energi Baru Terbarukan (EBT)

Pada 18 Juni 2025, Suroso diangkat menjadi Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PLN. Ia juga tetap dipercaya menduduki jabatan yang sama dalam perubahan susunan direksi PLN pada Juni 2026. Salah satu fokus yang menjadi bagian dari tanggung jawabnya adalah pengembangan pembangkit energi terbarukan, termasuk pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP).

Dalam pernyataan resmi PLN pada Agustus 2025, Suroso menyoroti pengembangan proyek panas bumi sebagai bagian dari Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034. Dokumen tersebut memuat target kapasitas panas bumi sebesar 5,2 gigawatt (GW).

Suroso juga memaparkan perkembangan dua proyek panas bumi di Bengkulu, yakni PLTP Kepahiang berkapasitas 110 megawatt (MW) dan PLTP Hululais dengan kapasitas yang sama. Saat itu, proyek PLTP Kepahiang memasuki tahap finalisasi pemilihan mitra strategis. Sementara PLTP Hululais ditargetkan beroperasi secara komersial pada 2028.

“Potensi panas bumi Indonesia sangat besar dan tersebar di banyak wilayah. Kami akan mengoptimalkan pengembangan PLTP yang sudah dikaji agar kehadirannya memberi dampak nyata, baik bagi masyarakat di sekitar proyek maupun pelanggan PLN di seluruh Indonesia,” ujar Suroso dalam keterangan resmi PLN pada 29 Agustus 2025.

Aktif Pengembangan Smart Grid

Di luar jabatan strukturalnya di PLN, Suroso juga tercatat aktif dalam pengembangan teknologi jaringan listrik pintar atau smart grid melalui Indonesia Smart Grid Initiative.

Teknologi ini memungkinkan pengelolaan jaringan listrik yang lebih terintegrasi melalui pemanfaatan sistem digital, komunikasi, dan pemantauan jaringan. Pengembangannya dinilai relevan untuk mendukung sistem kelistrikan yang lebih efisien serta mengakomodasi peningkatan penggunaan energi terbarukan.

Dengan jabatan barunya, Suroso kini menghadapi tanggung jawab lebih luas dibanding pengelolaan satu direktorat. Ia perlu memastikan keandalan pasokan listrik nasional sekaligus mengawal investasi infrastruktur, efisiensi perusahaan, dan pengembangan energi bersih. rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: DIKI TRIANTO
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA