Hal tersebut disampaikan Bahlil saat mewakili Presiden Prabowo Subianto menyampaikan sambutan dalam acara Pembukaan atau Opening Ceremony Trade Expo Indonesia (TEI) 2026, di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang Selatan, Banten, Rabu, 14 Oktober 2026.
Dalam sambutannya, Bahlil menekankan pentingnya pengelolaan sumber daya alam secara optimal untuk kemakmuran rakyat. Pemerintah juga mendorong ekspor produk bernilai tambah tinggi melalui pengembangan industri dalam negeri.
“Hilirisasi merupakan kunci untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi nasional,” demikian sambutan Presiden yang dibacakan Bahlil.
Setelah membacakan sambutan Presiden, Bahlil menyampaikan pandangannya mengenai strategi hilirisasi nasional. Ia mengungkapkan bahwa pemerintah menargetkan nilai hilirisasi Indonesia mencapai 618 miliar dolar AS pada 2040.
Target tersebut mencakup berbagai sektor, mulai dari mineral dan batu bara, minyak dan gas bumi, kehutanan, perikanan, hingga pertanian.
“Saya ingin menyampaikan bahwa master plan ke depan hilirisasi Indonesia pada tahun 2040, target kita mencapai 618 miliar dolar AS,” kata Bahlil.
Menurutnya, pengembangan industri pengolahan di dalam negeri akan mendorong Indonesia beralih dari eksportir bahan mentah menjadi produsen barang bernilai tambah tinggi. Strategi ini juga diharapkan memperkuat struktur industri nasional dan membuka peluang investasi di berbagai sektor.
Bahlil mencontohkan perkembangan industri nikel sebagai gambaran potensi hilirisasi. Ia menyebut nilai ekspor nikel Indonesia pada 2017-2018 berada di kisaran 3,3 miliar dolar AS. Setelah pemerintah mendorong penghentian ekspor bijih nikel dan pembangunan industri pengolahan, nilai ekspor komoditas tersebut meningkat signifikan.
“Begitu kita menyetop ekspor nikel, kita membangun industrialisasi, kita membangun hilirisasi, kita membangun ekosistem baterai mobil dari hulu ke hilir sampai dengan
battery pack,” kata Bahlil.
Bahlil menyatakan, nilai ekspor sektor mineral nikel mencapai 34 miliar dolar AS pada 2023 dan telah melampaui 40 miliar dolar AS pada 2024. Ia juga menyampaikan target ekspor sektor tersebut minimal 45 miliar dolar AS pada 2025.
Selain hilirisasi, Bahlil mengajak investor internasional untuk memanfaatkan peluang investasi di Indonesia, terutama pada sektor energi baru terbarukan dan industri hijau.
Menurutnya, perkembangan perdagangan global semakin meningkatkan perhatian terhadap produk yang dihasilkan melalui proses produksi rendah karbon. Karena itu, Indonesia berupaya memanfaatkan potensi energi bersih untuk mendukung daya saing produk ekspor.
“Kita akan mendorong memberikan dengan energi baru terbarukan karena produk global sekarang itu akan lebih cenderung untuk mencari produk yang
green energy dan
green industry,” kata Bahlil.
BERITA TERKAIT: