Data tersebut menjadi perhatian karena dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dalam beberapa waktu ke depan.
Indeks saham utama di kawasan bergerak bervariasi pada awal perdagangan. Indeks S&P/ASX 200 Australia turun 0,62 persen.
Di jepang, Nikkei 225 naik 0,32 persen. Sebaliknya, indeks Topix Jepang melemah 0,11 persen.
Sementara itu, indeks Kospi Korea Selatan menguat 0,82 persen, sementara indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq turun 0,45 persen.
Adapun kontrak berjangka Hang Seng Hong Kong berada di level 24.340, sedikit di bawah penutupan sebelumnya di 24.345,22.
Perhatian investor tertuju pada data inflasi AS yang dapat memengaruhi keputusan The Fed mengenai suku bunga. Inflasi yang masih tinggi berpotensi membuat bank sentral AS mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama, sedangkan perkembangan inflasi yang lebih terkendali dapat membuka ruang bagi pelonggaran kebijakan.
Di tengah penantian tersebut, Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Beth Hammack mendorong The Fed mengambil langkah lebih cepat untuk memastikan inflasi kembali ke target 2 persen. Ia menilai penyesuaian kebijakan dalam skala lebih kecil sejak awal dapat mengurangi kebutuhan akan langkah yang lebih besar di kemudian hari.
“Jika memungkinkan, saya secara umum berpandangan bahwa lebih baik melakukan penyesuaian yang lebih kecil dan relatif cepat daripada menunggu hingga berisiko membutuhkan koreksi yang lebih besar,” kata Hammack dalam pernyataan resmi Federal Reserve Bank of Cleveland.
Sebelumnya, The Fed menaikkan suku bunga acuannya pada September 2026 ke kisaran 3,75-4 persen. Investor kini menantikan pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada 27-28 Oktober 2026 untuk melihat arah kebijakan berikutnya.
BERITA TERKAIT: