Berdasarkan data Bloomberg, posisi tersebut menguat 17 poin atau 0,09 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Pengamat mata uang dan pasar keuangan Ibrahim Assuaibi menilai, perkembangan konflik di Timur Tengah masih menjadi perhatian pelaku pasar karena berpotensi mengganggu pasokan minyak dunia.
Konflik yang berlanjut antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran meningkatkan kewaspadaan pasar. Terlebih, kelompok tersebut dilaporkan menyerang kilang minyak di Riyadh pada awal pekan ini.
Meski pasokan minyak dari Timur Tengah meningkat sepanjang September, ancaman terhadap jalur pelayaran di Teluk dan Selat Hormuz disebut kembali meningkat pada Oktober.
Sebelum konflik memanas, jalur tersebut mengangkut minyak dan bahan bakar dalam volume setara sekitar 20 persen pasokan global.
“Serangan terhadap kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz mencapai tingkat tertinggi pada pekan lalu, tertinggi sejak dimulainya perang Iran,” kata Ibrahim dalam risetnya.
Di sisi lain, pasar juga mencermati arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed).
“Pelaku pasar secara luas memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan 27-28 Oktober 2026, menyusul kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) pada bulan September,” jelasnya.
Namun, risiko inflasi yang berkelanjutan, salah satunya dipicu tingginya harga energi, masih membuka peluang kenaikan suku bunga pada Desember mendatang.
Ketidakpastian arah kebijakan moneter AS dan eskalasi konflik di Timur Tengah disebut menjadi faktor yang terus dicermati investor dalam menentukan langkah di pasar keuangan global.
BERITA TERKAIT: