Pasar Eropa Berakhir Variatif di Tengah Tekanan Fiskal Prancis

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Selasa, 06 Oktober 2026, 07:03 WIB
Pasar Eropa Berakhir Variatif di Tengah Tekanan Fiskal Prancis
Ilustrasi
Kecil Besar
rmol news logo Bursa saham Eropa mengakhiri perdagangan di zona hijau. Kendati demikian, pasar saham Prancis harus rela merosot ke level terendah dalam enam bulan akibat kekhawatiran mendalam terhadap stabilitas fiskal negara tersebut. 

Beban pasar kian bertambah menyusul kejatuhan harga saham Schneider Electric pasca-akuisisi perusahaan perangkat lunak asal Amerika Serikat, PTC.

Berdasarkan laporan dari Reuters, indeks pan-Eropa STOXX 600 ditutup mencatatkan kenaikan 0,36 persen atau setara dengan 2,27 poin ke level 633,62 pada Senin 5 Oktober 2026 waktu setempat atau Selasa pagi WIB.

Kenaikan ini terjadi setelah pekan lalu indeks sempat menyentuh level terendahnya dalam empat bulan. Tekanan sebelumnya dipicu oleh lonjakan imbal hasil obligasi global akibat kekhawatiran inflasi, peningkatan penerbitan obligasi korporasi, serta memburuknya prospek fiskal di sejumlah negara.

Sektor barang dan jasa industri mengalami hal sebaliknya, melemah 0,7 persen, terutama dipicu oleh kejatuhan harga saham Schneider Electric sebesar 10 persen. Penurunan ini terjadi karena investor menimbang skala akuisisi terbesar dalam sejarah perusahaan tersebut serta tingginya premi yang dibayarkan untuk mencaplok bisnis perangkat lunak milik PTC.

Di bursa regional, indeks CAC 40 Prancis mencatatkan kinerja terburuk dengan koreksi sebesar 0,8 persen atau 63,09 poin ke posisi 7.834,10. Di sisi lain, indeks DAX Jerman bergerak naik tipis 0,09 persen atau 23,01 poin menjadi 25.254,21, sementara FTSE 100 Inggris menguat 0,34 persen atau 35,99 poin ke level 10.497,94.

Tekanan juga melanda mata uang Euro yang harus merosot ke level terendah dalam 17 bulan. Investor dibayangi kekhawatiran atas potensi kembalinya dinamika krisis utang negara di kawasan Euro.

Sebelumnya pada pekan lalu, pemerintah Prancis resmi mengajukan anggaran tahun 2027 yang memuat agenda pemangkasan belanja serta berbagai langkah penghematan kontroversial demi mempersempit defisit anggaran. Walau demikian, para pelaku pasar masih meragukan kapasitas pemerintah dalam mengendalikan defisit menjelang pelaksanaan pemilu 2027. 

Keraguan tersebut membuat imbal hasil obligasi pemerintah Prancis bertenor 10 tahun tertahan di kisaran level tertinggi sejak tahun 2008.

Sementara itu, dinamika politik juga terjadi di negara tetangga, Spanyol. Perdana Menteri Pedro Sanchez menyerukan percepatan pemilu pada tanggal 29 November mendatang. Langkah ini diambil guna memperkuat mandat pemerintahan setelah parlemen yang terfragmentasi menolak serangkaian dekret pemerintah pekan lalu, yang semula dirancang untuk merespons gelombang protes besar terkait isu perumahan.

Kendati demikian, indeks IBEX Spanyol yang memiliki porsi besar pada sektor keuangan justru melesat 1,1 persen. Kenaikan ini sejalan dengan pemulihan saham perbankan Eropa setelah sempat mengalami tekanan berat pada pekan sebelumnya.

Dari data makroekonomi, aktivitas bisnis di kawasan euro tercatat tumbuh pada laju tercepatnya dalam hampir tiga setengah tahun terakhir pada bulan September. Permintaan domestik terpantau tetap solid meskipun ada kekhawatiran inflasi yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah. rmol news logo article


Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: RENI ERINA
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA