Status Tanpa Foto, Hindari Fitnah

Ilustrasi

PINTU lift, baru saja mengatup. Dalam lift ada saya dan dua wanita. Semua pakai masker. Menjaga jarak. Mendadak, saya batuk. Whaow... suasana kontan berubah.

Salah satu dari mereka membetulkan masker, yang sudah betul. Seolah menutup hidung. Seperti lupa, bahwa dia sudah pakai masker.

Dia manis, usia sekitar 35 - 38. Lincah. Kulit sawo matang. Body seksi 8. Maksudnya, berlekuk-lekuk gitu.

Satunya lagi, berpaling. Mojok. Menghadap dinding logam stainless. Mepet, di tombol-tombol angka, penunjuk level lantai.

Yang ini cantik, usia 25 - 29. Jilbab fashionable. Kulit putih. Body tipis proporsional.

Ternyata ada kejutan.

Wanita pojok - diam-diam - menekan tombol lift. Lampu tombol menyala, merah. Nomor tiga.

Astaga... dia mengubah tujuan.

Semula dia nomor lima. Saya enam. Sedangkan, si seksi 8 tidak menekan tombol. Berarti idem. Kalau tidak lima, ya enam.

Sekarang saya sadar. Wanita pojok ingin buru-buru keluar. Dia menunduk. Mengepalkan kedua tangan.

Waktu terasa bergerak lamban. Detik demi detik.

Eee... batuk saya menggonggong lagi. Bertubi-tubi. Nyerocos.

Kali ini saya sengaja. (Maaf) saya batuk-batukkan.

Reaksinya parah.

Wanita pojok, mengepal-kepalkan tangan. Seperti kebelet pipis. Atau, mungkin ingin menonjok wajah saya. Atau... entah-lah.

Si seksi 8, yang semula tenang, kini galau. Melirik saya, sinis. Dia melangkah maju. Mendekat, di belakang wanita pojok. Kayak antre gitu.

Pintu lift terbuka. Jreeeng...

Mereka keluar berebutan. Kabur dengan cepat.

Seksi 8 terseok-seok. Tergeol-geol. Efek sepatu tumit tinggi.

Pintu lift menutup lagi. Saya sendirian. Ketawa.

Itu terjadi Selasa (24/3/2020). Waktu saya ngantor. Di Atrium Setiabudi, Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan.

Di gedung itu ada 5 lift. Sejak awal Maret lalu dibatasi, maksimal 3 orang per lift. Sebelumnya, bisa 12 orang per lift.

Satpam siaga. Ada 4 botol hand sanitizer nempel dekat lift. Semua orang pakai itu. Kayak anak kecil punya mainan baru.

Jidat pengunjung disenter thermometer. Jika lewat dari 37,5 dilarang masuk. Diusir keras.

Suhu tubuh saya berubah-ubah. Antara 35 - 36 koma sekian. Hanya tempo 10 - 20 menit, sudah berubah. Sebab, saya sering keluar-masuk. Sekadar merokok.

Jangan salah, saya batuk tadi ada sebabnya. Pada batuk yang pertama. Memang asli batuk.

Penyebabnya, sehabis makan siang. Tenggorokan rasanya gak enak.

Beberapa menit sebelum masuk lift, saya makan di warteg dekat situ.

Saya makan: Nasi, sup, sambal, perkedel. Sudah.

Selesai makan, tenggorokan bermasalah. Waktu mengunyah, gak masalah. Setelah makanan habis, agak beda dari biasa. "Serik" bahasa Surabaya. Atau garing.

Saat membayar, saya katakan ke pemilik warung:

"Perkedelnya gak kayak biasa, Bu."

Ibu pemilik warung mengamati saya. Tersenyum ramah:

"Tumben, bapak protes."

"Cuma lapor, Bu."

Sambil menerima uang kertas pembayaran saya, dia katakan:

"Bumbu perkedel tetap. Gak berubah."

Saya terima uang kembalian. Menyesal sudah komplain. Biasanya saya diam saja.

"Terima kasih, Bu."

"Sama-sama Pak."

Ternyata, Ibu itu masih bicara lagi:

"Pak, sekarang manajemen gedung sering maksa saya pake semprotan tangan."

Saya berlalu, tersenyum.

Satu-dua detik... Otak saya merangkai: Perkedel. Dikepal-kepal. Hand sanitizer.

"Bajingan... itu dia," kataku dalam hati.

Ingin rasanya membalikkan badan. Protes keras. Tapi, seketika itu juga saya batalkan. Percuma. Nasi sudah jadi sanitizer.

Juga, kasihan ibu itu. Toh, dia dipaksa Satpam pake hand sanitizer.

Tapi, kenapa dia masak perkedel? Dikepal-kepal? Diamput... Kejujuranmu melukai tenggorokanku.

Efeknya lebih ke psikologis. Galau. Saya jalan menuju lift.

Beberapa detik sebelum masuk lift, lagi-lagi, jidat saya diperiksa Satpam. Ditempeli thermometer. Disenter.

Lantas, Satpam memicingkan mata. Dahinya mengkerut. Memeriksa angka digital di thermometer.

"Lo..." katanya.

"Ya... pak?" tanyaku penasaran.

"Lo, pak," ujarnya lagi.

Dia menunjukkan themometer. Tulisannya: Low. Dia jelaskan:

"Lo, berarti di bawah 34, Pak."

"Sakitkah saya?"

"Tidak. Bapak sehat."

"Terima kasih, Pak."
"Sama-sama."

Buset... ini psikologis saya yang terganggu. Gegara perkedel.

Penulis adalah wartawan senior 
Tag:

Kolom Komentar


Video

New Normal New Ideas

Minggu, 05 Juli 2020
Video

Bergerak Serentak, Seruan Mahasiswa Batalkan OmnibusLaw

Jumat, 10 Juli 2020
Video

Jasad ABK WNI Ditemukan di Frezeer Kapal China

Jumat, 10 Juli 2020

Artikel Lainnya

Via Vallen, Jangan Bikin Cintaku Terkiwir-Kiwir
Rumah Kaca

Via Vallen, Jangan Bikin Cin..

04 Juli 2020 20:14
Puisi: Ajari Aku Bagaimana Berbangga
Rumah Kaca

Puisi: Ajari Aku Bagaimana B..

29 Juni 2020 23:26
Sajak Penyelenggara Pilih Kadal
Rumah Kaca

Sajak Penyelenggara Pilih Ka..

28 Juni 2020 22:54
(Indonesia) Dunia Lain
Rumah Kaca

(Indonesia) Dunia Lain

17 Mei 2020 13:20
Putra-putri Bambu Runcing
Rumah Kaca

Putra-putri Bambu Runcing

11 Mei 2020 21:39
Kibarkan Bendera Kuning
Rumah Kaca

Kibarkan Bendera Kuning

01 Mei 2020 15:47
Pemulung Tua dan Istrinya
Rumah Kaca

Pemulung Tua dan Istrinya

23 April 2020 10:10
Puisi Berbaju Putih
Rumah Kaca

Puisi Berbaju Putih

30 Maret 2020 18:08