Jak-Mania Adalah Anak-anak Bangsa

Oleh: prof. DR. Imam B Prasodjo, Sosiolog UI

Senin, 27 Juni 2016, 09:00 WIB
Jak-Mania Adalah Anak-anak Bangsa
foto:net
rmol news logo Kasus rusuh dan anarkis suporter Jakmania usai Persija kalah dari lawan mainnya, perlu perhatian khusus.
 
Tak hanya dari kepolisian, organisasi suporter Jakmania tapi juga pemerintah. ukum harus ditegakkan, moralnya juga harus dibenahi karena mereka tetap anak-anak bangsa yang harus sama-sama diperhatikan. Jika menghadapi kasus ini masyarakat geram, maka menghadapi koruptor masyarakat harusnya lebih murka.

Jumat (24/6) malam jadi malam tragis bagi Brigadir Hanafi, anggota Brimob Polda Metro Jaya yang saat itu kebagian jatah menjaga pintu masuk dan keluar penonton Persija Vs Sriwijaya FC di Gelora Bung Karno. Di malam yang naas itu, dia terpisah dari kelompoknya saat menghalau suporter agar tak masuk lapangan. Karena sendirian, Hanafi jadi bulan-bulan Jakmania yang tak rela tim kesayangannya kalah. Dia dikeroyok. Dua pelipisnya retak, dagu sobek dan trauma di bagian mata.

Aksi kekerasan yang dilakukan suporter Persija seperti ini bukan yang pertama. Sudah lama terjadi dan terulang. Kenapa terjadi lagi dan terjadi lagi kasus seperti ini? Kasus seperti ini utamanya didorong oleh solidaritas yang berlebihan atau neotribalisme. Suporter berkumpul lantaran punya ikatan emosi yang sama. Yaitu rasa memiliki terhadap tim sepak bola kebanggaannya. Namun, fanatisme yang berlebihan ini akhirnyamenjadikan kelompok lain musuh. Dan, karena musuh, maka harus dilawan. Maka saat mereka berkumpul, yang muncul adalah bentuk emosional primitif yang mengarah ke perlakuan hewani: kekerasan.

Tentunya, tidak semua suporter sepak bola seperti ini. Termasuk di lingkungan Jakmania. Namun kelompok kecil ini jadi dominan dan akhirnya mencoreng Jakmania dan suporter sepak bola keseluruhan. Ini tidak boleh dibiarkan. Jika dibiarkan, nantinya kelompok ini bisa masuk ke dalam lingkaran yang lebih besar. Naluri kekerasan dan perilaku primitif ini harus ditindak tegas. Tak hanya oleh aparat kepolisian. Tapi juga pengurus Jakmania harus turun tangan.

Wajar kalau sorotan masyarakat terhadap kasus ini jauh lebih besar dari pada kasus korupsi, misalnya. Karena kasus kekerasan ini terlihat langsung dampaknya. Peragaan kekerasan terlihat kasat mata. Korbannya pun terlihat nyata. Ini berbeda dengan kasus korupsi. Terhadap koruptor, sorotan masyarakat memang tidak terlalu besar. Ada respons tapi tidak terlalu besar. Hal ini dikarenakan dampak dari kejahatan korupsi yang tidak terlihat langsung. Akhirnya...bolehlah kita keras ke perusuh bola, tapi jangan lupa kita harus geram juga ke para koruptor. ***

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA