Dikasih Sutiyoso 100 Juta Kenduri Dengan Yatim

Bercengkrama Dengan Din Minimi (2)

Senin, 18 Januari 2016, 09:00 WIB
Dikasih Sutiyoso 100 Juta Kenduri Dengan Yatim
Din Minimi:net
rmol news logo Menjelang pergantian tahun 2015, sosok Din Minimi jadi "buah bibir". Pemimpin pemberontak yang selama ini bikin onar di Aceh "dilumpuhkan" Kepala BIN Sutiyoso. Dia mau turun gunung, menyerahkan senjata, dan "tobat".

Pemerintah saat ini sedang memikirkan untuk memberikan pengampunan alias amnesti. Seperti apa kehidupan Din Minimi saat ini? Secara eksklusif, wartawan Rakyat Merdeka, Ade Alkautsar mengikuti dan bercengkrama dengan Din Minimi. Berikut liputannya:

Dari pintu depan, kami masuk menaiki anak tangga rumah panggung kayu sederhana milik Din Minimi. Setelah mengucap salam, pandangan langsung terpusat pada spanduk ukuran 3x1 meter bercorak bendera Partai Aceh dengan foto Muzakkir Manaf di samping kanan.

Heran juga melihat Din Minimi memasang foto eks panglima GAM (Gerakan Aceh Merdeka) yang kini menjabat sebagai wakil Gubernur Aceh itu. Soalnya, Muzakkir Manaf-lah yang meminta aparat segera menangkap Din Minimi, baik dalam keadaan hidup atau mati!

Pemberontakan Din terhadap pemerintah Aceh ditanggapi beragam oleh publik. Ada yang mendukung, Ada pula yang menuduhnya mencuri panggung. Aksi Din Minimi Cs kembali mengangkat senjata pascaperdamaian cukup menyita perhatian publik, tidak hanya dari Jakarta, melainkan juga menjadi sorotan dunia. Tuntutan utama mereka, agar anak yatim, janda korban konflik, dan fakir miskin diperhatikan oleh bekas elite GAM yang kini berkuasa di Aceh.

Din Minimi terdiam lalu menatap tajam ketika ditanya soal kecurigaan banyak pihak, tuntutannya memperjuangkan anak yatim dan fakir miskin hanya untuk mendapat simpati masyarakat. Padahal, ujung-ujungnya untuk kepentingan pribadi. "Biar disambar petir saja saya. Kalau disambar petir nanti, berarti jalan (perjuangan) saya bukan untuk anak yatim," ujarnya dengan suara meninggi, sebelum mematikan rokok yang dia hisap dengan cara menginjaknya.

Seorang tetangga Din, Yusuf nampak langsung nanar dan berkaca-kaca ketika saya menyinggung persoalan anak yatim di kampung tersebut. Kata dia, ini terjadi akibat konflik berkepanjangan melanda Aceh. Banyak anak-anak yang menjadi yatim, dan kurang mendapat perhatian dari pemerintah, khususnya di daerah-daerah terpencil.

Saat Lebaran datang, santunan untuk anak yatim setempat melalui wadah berkumpul bekas Kombatan GAM, jumlahnya sering tidak memadai. Terakhir, anak yatim hanya kebagian Rp 100.000 untuk Meugang. Meugang adalah tradisi memasak daging di Aceh, jelang hari raya.

"Dengan uang segitu jangankan untuk beli daging sapi, daging ayam saja nggak dapat. Terpaksa beli ikan bandeng, sekitar sekilo," kenang Yusuf, tak kuasa menahan air mata.

Menurut Lisnawati, Istri Din Minimi, suaminya memang sangat sensitif jika berhubungan dengan masalah anak yatim. Kisah saudara dekatnya, setiap jelang lebaran, Nurdin selalu bela-belain keluar rumah hingga lewat tengah malam untuk mencari uang guna mencukupi kebutuhan anak yatim di daerahnya.

Menurut Lisnawati, hal ini dilatarbelakangi latar belakang Din yang juga anak yatim korban konflik. Kuburan ayah Nurdin, yang juga Kombatan GAM dengan nama alias Abu Minimi hingga saat ini tidak diketahui keberadaannya.

Seperti diketahui, tepat dua hari setelah turun gunung, Din Minimi bersama kelompoknya, langsung menggelar jamuan makan siang bersama 300 anak yatim. Itu agenda utamanya.

Anak yatim ini kabarnya diundang dari dua kecamatan di Aceh Timur, yakni Kecamatan Indra Makmue dan Julok. Ada dua ekor sapi yang disembelih. Banyak yang terheran-heran, dari mana Bang Din mendapatkan uang. "Kaya raya dia, dari mana dapat duit begitu banyak. Padahal dia orang miskin. Aneh," tulis salah seorang Facebookers mengomentari berita di media online terkait kegiatan santunan tersebut.

Guna menjawab rasa penasaran itu, saya menanyakan pada Din Minimi. Apa benar itu uang hasil rampokan selama pegang senjata seperti yang dituduhkan?

Dengan ceplas-ceplos dia langsung membeberkan. "Dana dari bapak (Sutiyoso) dulu, (diberikan) ketika hendak pulang. Rp 100 (juta). Saya bagi ke anggota, masing-masing Rp 2 (juta) setengah. Lebihnya saya buat kenduri," ungkapnya.

Tapi salah satu eks kombatan GAM, yang mengaku rekan seangkatan saat bai'at (sumpah) ketika masuk GAM meragukan kemurnian perjuangan Din Minimi. Dia menduga ada motivasi lain. Kelompok seperti ini bukan hanya Din Minimi Cs, tapi ada beberapa kelompok yang juga bersenjata dan mulai menjamur di beberapa daerah di Aceh.

Ada pula yang mengatasnamakan kelompok pecahan Din Minimi, baru-baru ini yang mulai santer mengatasnamakan dirinya sebagai kelompok TRAK (Tentara Keadilan Rakyat Aceh). Ada apa sebenarnya? ***

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA