Selain itu, tragedi itu juga menunjukkan fungsi koordinasi dalam penanganan tindak pidana terorisme yang dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) tidak berjalan maksimal.
Begitu disampaikan anggota Komisi III DPR RI, Muhammad Nasir Djamil. Dia menyayangkan aksi terorisme yang menewaskan korban kembali terjadi. Serangkaian ledakan bom diiringi baku tembak di Sturbuck Sarinah kemarin menewaskan 7 orang dan 23 luka-luka.
"Peringatan ada teror telah mengemuka sejak perayaan Natal dan Tahun Baru, bahkan beberapa media internasional telah melansir gerakan terorisme yang mengarah ke Asia Tenggara dan Indonesia sebagai tujuan utama. Seharusnya BNPT melakukan koordinasi dan dapat mendeteksi dini gerakan tersebut," kata Nasir.
Nasir menduga serangan bom di Sarinah sebagai upaya serangan balik kelompok teroris terhadap pemerintah khususnya aparat penegak hukum.
"Upaya penindakan yang tidak diimbangi dengan langkah persuasif (soft approach) hanya akan melahirkan militan terorisme baru yang akan menjadi bom waktu terjadinya serangan balik," ungkap Nasir.
Namun demikian Nasir mengapresiasi langkah sigap Polri dan TNI yang segera meringkus pelaku. Politisi PKS ini juga menyampaikan prihatin atas kejadian yang menimpa korban.
Untuk itu Nasir mengatakan, BNPT perlu berbenah diri dan melakukan review atas pola koordinasi dan upaya deradikalisasi yang dilakukan selama ini.
"Masih ditemukan adanya gap koordinasi dalam pola penanganan tindak pidana terorisme diantara penegak hukum selama ini merupakan faktor penyebab tidak maksimalnya penanggulangan terorisme di Negeri ini," tegas Nasir.
[dem]
BERITA TERKAIT: