Para ahli memperkirakan tengkorak dan tulang belulang itu berusia setidaknya 9.000 tahun.
"Ini bagian dari ritual pemakaman yang meliputi manipulasi tubuh," ujar Andre Strauss, pemimpin peneliti dalam jurnal
Plos One.
"Masyarakat yang tinggal di Lapa do Santo di masa lalu kelihatannya menggunakan anggota tubuh manusia untuk mengekspresikan prinsip kosmologi mereka berkaitan dengan kematian," ujarnya.
Praktik mutilasi ini diduga merupakan tradisi masyarakat pemburu dan peramu yang hidup di kawasan itu pada masa Holocene, sekitar 10 ribu tahun lalu.
"Ritual dekapitas atau pemenggalani ini merupakan bukti dari pemakaman yang lebih kompleks di kalangan masyarakat pemburu dan peramu di benua Amerika," kata Strauss lagi.
Tengkorak yang ditemukan ini 3.000 tahun lebih tua dari penemuan bukti dekapitasi sebelumnya di Amerika Selatan.
Tengkorak ini ditemukan pada 2007, namun hasil dari pengujian terhadap usia dan riwayatnya baru muncul di jurnal
Plos One hari Rabu kemarin (23/9), seperti dimuat
CNN.
[dem]
BERITA TERKAIT: