Sejauh ini ada tiga kandidat yang bersaing ketat untuk memperebutkan Ketua Umum Tanfidziyah (pelaksana). Mereka adalah incumbent KH Said Aqil Siradj, Wakil Ketua Umum PBNU As'ad Said Ali, dan pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, KH Salahudin Wahid.
Anggota Majelis Pembina Nasional Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Syaifullah Tamliha menjagokan KH Said Aqil Siradj untuk kembali memimpin ormas Islam terbesar di Indonesia ini.
Alasannya, Kiai Said merupakan teman akrab mantan Ketum PBNU Abdurahman Wahid (Gus Dur) selama menempuh pendidikan di Timur Tengah.
"Pendidikan di Timur Tengah sangat penting bagi pemimpin NU karena disitu lahirnya Ahlussunnah waljamaah. Jadi Kiai Said tidak hanya paham tapi sudah sangat mumpuni terhadap pedoman NU," kata Syaifullah kepada wartawan, Kamis (30/1).
Alasan lainnya, kata anggota Komisi I DPR ini, Kiai Said berhasil memimpin NU. Ada 25 perguruan tinggi NU yang didirikan selama lima tahun Kiai Said menjabat.
"Ini prestasi luar biasa dan belum dilakukan pemimpin NU sebelumnya," klaim dia.
Dan yang lebih penting lagi, kata dia, Kiai Said tidak membawa kepentingan partai politik ke dalam NU.
"Kiai Said bukan orang yang mengikuti aliran politik praktis dan tidak akan membawa NU kepada partai politik," katanya.
Politisi PPP ini menambahkan, sesuai tradisi NU yang ada biasanya incumbent dipersilakan kembali untuk memimpin dan diganti bila yang bersangkutan sudah tidak bersedia untuk memimpin kembali. Ini bisa dilihat dari kepemimpinan NU sejak Idham Khalid, Gus Dur hingga Hasyim Muzadi.
"Jadi tradisi ini harus terus dilanggengkan," harap dia.
[dem]
BERITA TERKAIT: