Begitu tegas Sekretaris Daerah Kabupaten Tolikara Dance Y Flassy kepada wartawan usai menemui Presiden Jokowi di Istana Negara, Jakarta (Jumat, 24/7).
"Ini memang pemberitaan yang muncul justru bikin pusing. Sejak awal tak ada penolakan ibadah, hanya salah komunikasi saja. Musala terbakar karena rembetan dari kios," ujarnya.
Sementara itu Asisten I Tolikara Emi Enembe mengatakan bahwa kronologi insiden itu berawal dari sekelompok pemuda yang secara baik-baik menghampiri umat muslim yang hendak melaksanakan Salat Idul Fitri. Mereka meminta agar muslim tidak menggunakan pengeras suara. Namun umat Islam, sambungnya, tidak tahu bahwa sudah ada kesepakatan di tingkat pimpinan dan salat Id boleh dilaksanakan di lapangan terbuka menggunakan pengeras suara.
"Tapi entah kenapa dari kios ada yang menembak. Dari situlah peristiwa dimulai. Para orang tua yang mendengar anak-anak mereka ditembak langsung marah dan membakar kios itu. Nah api kemudian merembet sampai ke Masjid. Jadi bukan sengaja membakar Masjid," ujarnya.
Lebih lanjut, Emi meminta agar aparat penegak hukum mengusut pelaku penembakan yang memprovokasi amarah warga itu.
"Tadi data-data sudah kami sampaikan kepada Presiden Jokowi. Termasuk peristiwa penembakan," tandasnya.
[ian]
BERITA TERKAIT: