Fahira Idris Sudah Minta Maaf Terkait Kicauan Gaza di Jakarta

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/'></a>
LAPORAN:
  • Jumat, 26 Juni 2015, 22:37 WIB
Fahira Idris Sudah Minta Maaf Terkait Kicauan Gaza di Jakarta
rmol news logo Senator Fahira Idris sudah meminta maaf atas kicauannya di twitter tentang nasib masyarakat di Cipete dekat Kemang, Jakarta Selatan mirip dengan yang dialami masyarakat Jalur Gaza karena kesulitan untuk bisa pergi ke masjid.

Kepastian Fahira sudah meminta maaf disampaikan Ichsan Thalib selaku pemilik PT FIM Jasa. Sebelumnya, Ichsan Thalib dituduh pengurus yayasan Masjid Al-Futuwwah menghambat aktivitas warga ke Masjid.

"Bu Fahira sudah minta maaf secara pribadi. Bu Fahira belum pernah ke lokasi dan ketemu Pak Sanwani," kata Ichsan Thalib di Pejaten, Jakarta Selatan, Jumat (26/6).

Kuasa hukum Ichsan Thalib, Artha Wicaksana menegaskan, pihaknya tidak pernah menutup jalan yang telah dihibahkan kepada masjid. Dia menjelaskan, kliennya sudah berkomitmen sejak dua tahun yang lalu, bahkan sebelum dimediasi wali kota Jakarta Selatan.

Hal itu terkait pemberian jalan akses selebar 1,5 meter dari total 5 meter. Itu pun, kata dia, jalannya dilengkapi coneblock, sehingga siapa pun tak perlu harus lompar pagar sebagaimana dmarak diberitakan. Sayangnya, kata dia, Sanwani malah meminta lebar jalan 3 meter. Hal itu jelas tak mungkin disanggupinya, lantaran pihaknya nanti hanya memiliki akses jalan dua meter.

"Warga tetap bisa ke masjid tanpa kesulitan. Sebab, sesuai dengan kesepakatan yang dilakukan 28 Agustus 2014 pemilik tanah diharuskan memberikan akses jalan selebar 1,5 meter. Foto-foto yang disebarkan itu menyesatkan, kalo foto membuktikan akses telah diberikan kami bisa tunjukan bahkan termasuk peta yang kami telah berikan jalan baik depan ataupun belakang," kata Artha.

Dia juga membantah kliennya telah menutup jalan sebagaimana yang beredar di Twitter akhir-akhir ini. Menurut dia, penutupan akses dilakukan oleh ahli waris bernama Mates. Penutupan itu terjadi murni karena ada permasalahan pribadi antara Sanwani dengan mates.

Sebenarnya, kata dia, tanah kliennya tidak mencakup tanah Mates, namun akses menuju masjid dari perkampungan warga memang melewati rumah Mates.

"Di mana Mates menutup akses yang kami berikan diatas tanah mates sendiri, atas hal ini kami betul betul tidak terkait ataupun menjadi bagian dari permasalahan mereka," ujarnya.

Justru, lanjut dia, Ichsan Thalib meminta Mates membuka akses. Sebab, akibat perbuatannya, kliennya terus-menerus difitnah dan dikaitkan dengan penutupan itu. Namun, ungkap dia, berdasarkan keterangan Mates, persoalan tersebut tidak ada kaitannya dengan kliennya.

"Bukan hanya kami yang membujuk mates, pihak wali kota juga sudah bujuk, hasilnya tembok sempat dibongkar, namun dibuat seng sekarang, abis gimana lagi, ini urusan internal mereka kok," ujarnya.

Artha menjelaskan, pihaknya saat ini telah melaporkan Sanwani ke Polda Metro Jaya terkait perobohan pagar pada Agustus 2014. Menurut dia, pembongkaran itu dilakukan Sanwani tanpa ada perintah wali kota Jaksel. Bahkan terdapat berita yang beredar bahwa perobohan memang perintah Wakil wali Kota Jaksel  Tri Kurniadi kepada Satpol PP.

Namun faktanya, kata dia, perobohan tersebut tidak pernah diperintahkan wakil wali kota.
"Sanwani memerintahkan perusakan tembok dengan dalih diperintahkan pemkot, padahal wakil wali kota sendiri marah-marah dengan Sanwani karena merusak pagar milik pemilik tanah secara sepihak dan diluar kesepakatan," ucap Artha.[dem]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA