Nasdem Minta Volume Impor Minyak Mentah dari Angola Diperbesar

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ade-mulyana-1'>ADE MULYANA</a>
LAPORAN: ADE MULYANA
  • Selasa, 09 Juni 2015, 21:47 WIB
Nasdem Minta Volume Impor Minyak Mentah dari Angola Diperbesar
kurtubi/net
rmol news logo Fraksi Nasdem DPR RI mendukung penuh kerja sama G to G terkait impor minyak mentah (crude oil) antara pemerintah dengan Angola.

"Bila perlu volume impornya diperbesar agar bisa diolah oleh kilang-kilang yang didesain khusus untuk mengolah minyak mentah," ujar anggota Fraksi Nasdem yang aktif di Komisi VII DPR RI, Kurtubi.

Hal itu disampaikan Kurtubi pada rapat Kerja antara Anggota Komisi VI dengan Kementerian ESDM yang didampingi oleh Dirut Pertamina, Dirut PLN, Selasa (9/6).

Kurtubi sebagaimana tertulis dalam keterangan pers yang dikirim Fraksi Nasdem DPR RI, menyatakan, mendukung upaya impor minyak mentah dari luar negara-negara Timur Tengah, salah satunya dari Angola.

"Amat sangat riskan bagi kepentingan bangsa kalau kita bergantung kepada crude oil yang begitu besar dari Middle East (Irak, Iran dan Saudi Arabia). Jadi harus ada sumber-sumber crude oil yang ada diluar dari Middle East seperti Afrika Barat salah satunya," katanya.

Menurut Kurtubi, sejauh ini Angola punya kepastian dalam supply minyak mentah dalam jangka panjang.

"Bila perlu kerja sama dengan Venezuela, agar  crude oil di Venezuela bisa diolah di Indonesia. Tetapi itu (tetap) memperhitungkan faktor ongkos. Kalau telah diperhitungkan faktor ongkosnya, kami juga mendukung kerjasama dengan pemerintah Venezuela," tambahnya.

Kerja sama impor minyak dari Angola melalui Sonangol EP atau Sociedade Nacional de Combustiveis de Angola EP sudah diteken Jokowi pada November 2014, atau sekitar sebulan setelah Jokowi dilantik sebagai presiden.

Ketua Umum Nasdem Surya Paloh menjadi orang di balik kerja sama tersebut. Salah satu pemilik Sonangol, Sam Pa, yang menjadi pintu masuk Indonesia menggandeng
perusahaan pemegang izin untuk eksplorasi minyak dan gas di Negara Republik Angola itu adalah kongsi lama bisnis Surya Paloh.

Kerjasama Indonesia-Anggola ini disorot karena dinilai sebagai bentuk balas budi Jokowi atas dukungan Surya Paloh di Pilpres. [rus]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA