Bangun Rumah Sakit Bagus Dulu Bu, Baru Deh Larang...

Menkes Imbau Warga Perbatasan Tidak Berobat ke Negeri Tetangga

Senin, 20 April 2015, 09:34 WIB
Bangun Rumah Sakit Bagus Dulu Bu, Baru Deh Larang...
Menkes Nila Farid Moeloek/net
rmol news logo Publik media sosial mengapresiasi imbauan Menkes Nila Farid Moeloek kepada warga untuk tidak berobat ke luar negeri. Tweeps percaya dokter Indonesia saat ini sudah banyak yang pintar.
 
Peselancar dunia maya berharap, Menteri Nila tak hanya mengimbau warga biasa berobat di dalam negeri, tapi juga mengimbau pejabat negara dan kroninya tidak berobat ke luar negeri.

Di Twitter, akun @pipinvin memuji langkah Menkes Nila mengimbau warga berobat ke dokter di dalam negeri saja. "Setuju bu. Dokter kita tidak kalah dengan asing," pujinya.

Akun @santifatimah optimistis warga akan menuruti imbauan Menkes Nila. "Kalau masih level penyakit ringan kami tentu nurut sama Bu Menteri. Kalau berat kayak kanker, nggak tahu deh," cuitnya.

Akun @hilangs kagum mengetahui Menkes Nila mengimbau warga, khususnya yang berada di wilayah perbatasan untuk tidak lagi berobat ke luar negeri. "Benar bu, saya akui dokter kita sekarang jauh lebih pandai. Saking pandainya buka jahitan pasien saja biayanya Rp 800 ribu, hehe," guraunya.

Akun @bgambut mengamini pernyataan Menkes Nila bahwa dokter di Indonesia sekarang ini sudah pintar-pintar, tidak kalah dengan dokter luar negeri. "Saking pintarnya bukan cuma ilmu kedokteran yang dikuasai. Ilmu bisnis pun dirambah. Bisnis dengan produsen obat, dan bisnis diagnosa penyakit dengan rumah sakit," komennya.

Akun @pasha mengakui, dokter lokal sudah semakin pintar dan cerdas, namun belum total bekerja mengabdikan ilmunya untuk membantu pasien. "Pinter sih pinter, lihat saja lulusan FK, IPKnya pada di atas 3,5, tapi jiwa melayaninya masih kurang," cuitnya.

Akun @wasitpardosi mengatakan, profesi dokter di Indonesia seperti profesi langka. Dokter di negeri ini cenderung eksklusif, tidak seperti di Singapura, Jerman atau Australia. "Dokter di luar negeri ramah ke pasien, makanya orang berduit lari ke dokter asing," katanya.

Akun @blackbox mengklaim, dokter ahli di Indonesia paling mahal dan paling matre se-Asia. "Bu Menteri pasti nggak tahu atau memang pura-pura tidak tahu?" tanyanya.

Akun @kenzie merasa, pelayanan medis di rumah sakit luar negeri lebih baik, ketimbang rumah sakit dalam negeri. Di samping itu, biayanya pun lebih murah. "Operasi jantung di Malaysia lebih terjangkau dibandingkan di RSkita. Bu Menteri cek aja," klaimnya.

Akun @dtan berkelakar, warga tidak mau berobat di Indonesia bukan karena meragukan kemampuan dokternya. "Tapi ragu mental dokternya yang nggak beda jauh sama politisi di Senayan. Orang nggak sakit sengaja dibikin sakit supaya bisa jualan obat, wkwkwk," kelakarnya.

Akun @xperia bilang, integritas dokter di rumah sakit dalam negeri masih rendah.

"Harusnya gak perlu obat A, disuruh beli obat A. Terus harganya yang mahal lagi," tudingnya.

Akun @laila mengatakan, persoalan layanan medis di Indonesia bukan semata soal kepandaian dokter. "Tapi juga biaya dan kualitas teknologi. Disini teknologi canggih, tapi biayanya bikin orang sakit yang dengar malah jadi mati, haha," guyonnya.

Akun @ant berharap, Menkes memberikan tauladan kepada masyarakat untuk berobat di dalam negeri. "Kalau keluarga ibu sakit jangan berobat di luar negeri ya bu," imbaunya.

Akun @dodee mengusulkan, Menkes Nila sewaktu-waktu menyamar menjadi pasien untuk mengetahui secara jelas kualitas layanan rumah sakit di dalam negeri. "Silakan ibu menyamar jadi pasien, dijamin kecewa," katanya.

Akun @saidsakti menyarankan, pemerintah tidak melarang warga perbatasan untuk berobat di negara tetangga. "Kalau belum bisa bangun rumah sakit bagus di perbatasan ya tidak usah melarang warga," sarannya.

Menkes Nila mengimbau warga Indonesia, khusus di wilayah perbatasan tidak perlu berobat ke negeri tetangga, melainkan cukup berobat di rumah sakit atau puskesmas setempat.

Hal tersebut disampaikan Menkes ketika mengunjungi sejumlah fasilitas kesehatan di Kecamatan Badau dan Puring Kencana, Kabupaten Kapuas Hulu, pekan ini. Dua kecamatan itu terletak di daerah perbatasan Indonesia-Malaysia di Provinsi Kalimantan Barat.

"Kami imbau agar masyarakat jangan lagi ke Malaysia. Dokter di sini sudah pandai," ujar Nila.

Nila mengakui ada kekosongan di bidang pelayanan kesehatan tertentu di perbatasan, begitu pula peralatan medis yang masih terbatas.

"Dari itu di perbatasan kami mau menguatkan kesehatan primer. Tentu kita bisa bayangkan jarak yang jauh ke perbatasan. Kita upayakan pelayan puskesmas dan puskesmas pembantu serta posyandu akan membantu masyarakat," ucap Nila.

Sementara itu, masyarakat Desa Badau, Kecamatan Badau, Abang Rahmat Saleh, mengharapkan menteri kesehatan bisa merealisasikan peningkatan kapasitas di Rumah Sakit Bergerak (RSB) Badau.

"Kita minta puskesmas dan RSB dilengkapi dari Kementerian Kesehatan. Jadi kalau disini lengkap kami tidak berobat ke seberang. Kami juga minta ada dokter yang menetap di perbatasan," pintanya.

Menurut Abang, pelayanan di RSB telah baik. Namun dalam penanganan penyakit tertentu masih belum bisa, sebab belum tersedianya alat medis yang memadai.

"Sekarang ini RSB memang lebih membantu masyarkat. Kalau dulu kami cuma ada puskesmas. Kita tahu walau pun dokter itu pintar, tapai kalau tidak ada alat dan obat mereka tidak bisa berbuat apa-apa," kata Abang. ***

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA