"Setelah sempat tergerus akibat kenaikan harga BBM beberapa waktu lalu, dan sempat sedikit bernafas menikmati kenaikan UMP 2015 pada bulan Februari, kali ini beban berat kembali menimpa kelas buruh akibat kenaikan harga beras," kata Presiden Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera (KSBSI) Mudhofir dalam keterangannya Selasa (4/3).
Lebih lanjut, Mudhofir mengaku kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) dan Upah Minimum Kabupaten Kota (UMK) yang diperjuangkan oleh buruh setiap tahunnya menjadi semakin kecil nilai manfaatnya akibat situasi ini. Ia mencontohkan, kenaikan harga beras mencapai 15 sampai 20 persen, itu akan berdampak terhadap kenaikan biaya konsumsi buruh dan keluarganya sebesar 30 persen dari upah.
"Artinya akan menurunkan upah riil buruh secara signifikan," ujar dia.
Mudhofir secara tegas mengkritisi peran Bulog dalam menjaga stabilitas harga beras yang tidak berjalan maksimal. "Bulog seharusnya dapat mempersiapkan segala kemungkinan dalam upaya menjaga stabilitas harga beras, apapun situasinya, baik musim penghujan, ataupun bekerja sama dengan aparat terkait dalam menindak spekulan dan importir beras yang nakal," ungkapnya.
Mudhofir menambahkan bahwa kondisi ini harus segera diakhiri, jika tidak nasib rakyat kecil akan semakin teraniaya, dan keadaan lapar tentunya akan membuat orang mudah marah, yang akan berdampak pada gangguan stabilitas nasional.
"Pemerintah harus segera menstabilkan harga beras agar normal kembali," tukasnya.
[rus]
BERITA TERKAIT: