Bahkan pedagang makanan yang menjajakan dagangannya pada malam hari di wilayah Jagakarsa, Jakarta Selatan yang merupakan wilayah yang dekat Depok ikut mengeluh.
Lantaran, pendapatan para pedagang mengalami penurunan akibat maraknya kasus pembegalan kendaraan roda dua yang membuat masyarakat sekitar tidak berani keluar malam untuk membeli makanan.
"Gara kasus pembegalan, dagangan jadi makin sepi," ungkap Rudi (23), salah seorang pedagang nasi goreng yang kerap berjualan hingga dini hari di kawasan Jagakarsa, saat berbincang dengan
RMOLJakarta, Kamis (5/2).
Rudi menjelaskan, ketika kasus pembegalan belum marak seperti sekarang ini, dagangannya itu selalu habis terjual sebelum jam 12 malam.
"Dulu pas soal begal itu gak rame, dagangan saya itu sudah habis sebelum jam 12 malam. Tapi pas begal rame, dagangan saya sampai jam 1 malam masih sisa," ungkapnya.
Hal senada juga dikatakan pedagang warung kelontong Fandy (46). Fandy yang membuka warungnya selama 24 jam nonstop, juga merasa resah dan merasa dirugikan karena dampak kasus pembegalan.
"Warung saya kalau malam jadi sepi yang membeli. Saat kasus begal belum ramai banyak anak-anak muda yang nongkrong di warung saya, nah sekarang gak berani nongkrong, pada bilang takut dibegal pas pulang," papar Fandi.
Lebih jauh Fandy pun berharap agar kasus ini cepat terselesaikan. Hal itu agar tidak meresahkan masyarakat juga tidak membuat dirinya makin merugi.
"Ya saya sih cuma maunya ini kasus beres, jadi saya jualan bisa tenang terus juga gak rugi, soalnya kalau terus-terusan sepi yang beli, makin rugi dong," imbuhnya.
[prasetyo/sim/jkt/adm]