"Selama ini, belum pernah ada kapal kami (manusia perahu) yang pernah terbalik atau tenggelam di laut di ombak. Tapi, semua dari niat dan kuasa dari yang di Atas (Tuhan)," kata Anggun, salah seorang manusia perahu dari Semporna, Malaysia (Sabtu, 3/1).
Agggun bersama dua rekannya Latif (50) dan Douglas (50) kini ditampung di Lapangan Bulalung Kampung Tanjung Batu. Ia diundang untuk membantu mempermudah evakuasi korban dan pesawat AirAsia QZ 8501 (
Baca: Pawang Ombak Pun Dicari untuk Bantu Permudah Evakuasi).
Dalam menghadapi ombak, ungkap Anggun, tak ada syarat atau ritual yang njelimet. Biasanya dirinya hanya tidur di atas kapal yang sunyi, untuk berkomunikasi dengan "penunggu" lautan tersebut.
Dalam mimpi, nanti diberikan petunjuk-petunjuk. Di samping itu, dia menyiapkan kancing, jarum, kemenyan, kain putih, dan benang yang dirajut menjadi sebuah baju berwarna putih. Baju itu kemudian dibuang ke laut.
"Kami siap membantu kalau memang diminta," kata Anggun didampingi Latif dan Douglas, yang saat diwawancarai grup
JPPN harus diterjemahkan oleh Syamsul, warga Tanjung Batu
Diakui Syamsul, kemampuan manusia perahu dalam "menjinakkan" ombak memang tak perlu diragukan lagi. Lautan adalah rumah mereka. Menurut cerita, dengan ritual khusus, manusia perahu mampu mengubah air laut menjadi air layak minum.
"Ombak besar memang bisa dijadikan teduh. Jadi, laut itu seperti jalan tol saja. Tapi kemampuan ini tidak selalu digunakan, hanya saat-saat tertentu saja," ujarnya.
[ysa]
BERITA TERKAIT: