Saat masih memimpin Jakarta berdua, duet Jokowi-Ahok begitu sangat ideal. Keduanya merupakan sosok yang saling memahami posisi masing-masing.
Demikian disampaikan Ketua DPP PDI Perjuangan, Maruarar Sirait, usai menghadiri pelantikan Basuki sebagai Gubernur DKI Jakarta oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta (Rabu, 19/11).
Maruarar merupakan orang dekat Jokowi dan juga Ahok. Dalam Pilkada DKI Jakarta 2012, Maruarar merupakan salah satu tokoh kunci kemenangan Jokowi-Ahok.
Menurut Maruarar, Jokowi dan Ahok memiliki karakter yang bertolakbelakang. Jokowi misalnya merupakan sosok yang santun dan tenang. Sementara Ahok merupakan sosok yang tegas dan keras.
"Dengan karakter yang berbeda mereka bisa saling kerja sama, sinergis," kata Ara, begitu Maruarar disapa.
Mereka berdua bisa sinergi, lanjut Ara, karena saling mempercayai satu sama lain, dan bisa saling menghargai. Jokowi misalnya, sebagai orang nomor satu di Jakarta saat itu, memberikan kepercayaan dan membuka peran yang luas kepada Ahok. Sementara di saat yang sama, Ahok, sebagai orang nomor dua, juga menghargai dan menghormati Jokowi dan bisa menempatkan posisi dia dengan tepat.
"Jokowi bisa memberikan kepercayaan pada Ahok, sementara Ahok memiliki etika politik yang tinggi sebagai orang nomor dua," ungkap Ara, yang juga Ketua Umum Taruna Merah Putih.
Dalam hal ini, masih kata Ara, Jokowi-JK menjadi teladan bagi gubernur-wakil gubernur lain, atau bupati dan wakil bupati yang lain. Sebab belakangan memang ada fenomena sebagian pasangan kepala daerah itu tak lagi harmonis setelah memimpin.
"Dalam hal ini, dalam mendampingi Jokowi, JK juga bisa belajar kepada Ahok. JK bisa belajar bagaimana hubungan Jokowi dengan Ahok, yang penuh saling percaya dan menghargai satu sama lain," demikian Ara.
[ysa]
BERITA TERKAIT: