"Sebaiknya pemerintahan Jokowi-JK belajar banyak dari kegagalan SBY yang menempatkan orang-orang yang tidak profesional dan memahami persoalan migas sebagai menteri ESDM. Akibatnya, tata kelola industri migas nasional menjadi amburadul dan Indonesia menjadi negara yang terkooptasi menghadapi liberalisasi industri migas," ujar pengamat politik, Rusmin Effendy, kepada RMOL beberapa saat lalu (Minggu, 5/10).
Menurut Rusmin, kegagalan fatal yang dilakukan SBY dalam menempatkan orang-orang yang tidak profesional menyebabkan terjadinya korupsi yang dilakukan Menteri ESDM Jero Wacik, termasuk sebelumnya Darwin Zaidi Saleh yang di-reshuffle dari kabinet karena kasus pribadi. Kasus Jejo Wacik ini menjadi tamparan berat pemerintahan SBY yang begitu bobrok menempatkan orang-orang yang tidak profesional, bahkan sama sekali tidak mengerti persoalan migas.
"Bukan kah di Partai Demokrat setiap kadernya yang menjadi pejabat publik baik menteri maupun DPR harus menandatangani fakta integritas anti korupsi. Faktanya, dua menteri dari Demokrat yang menduduki pos menteri ESDM baik Jero Wacik maupun Darwin Zaidi Saleh justru orang-orang yang bermasalah," tegas dia.
Saat ini, lanjut dia, beredar beberapa nama yang sudah di gadang-gadang menduduki posisi menteri ESDM seperti Poltak Sitanggang, Tumiran, Deendarlianto, Darwin Silalahi dan Rovicky. Bahkan, ada beberapa kandidat menteri yang mulai berwacana dengan menggunakan BEM sebagai alat kepentingan politik mereka. Namun nama-nama tersebut belum layak menduduki posisi menteri ESDM karena
track record dan jam terbang mereka belum teruji.
"Sejatinya, seorang menetri ESDM haruslah sosok yang memiliki kemampuan teknik dan pengetahuan yang sudah mumpuni di bidang migas mulai dari hulu hingga ke hilir. Punya kemampuan dan disiplin keilmuan yang sudah teruji serta berani melakukan revolusi dan kedaulatan energi," demikian Rusmin.
[ysa]