Lukman mengaku terkejut dengan banyaknya berita tentang rencana pemindahan makam Rasulullah yang membuat heboh di tanah air. Makanya, siang kemarin dia mengunjungi Dubes Arab Saudi untuk mengklarifikasi langsung isu tersebut.
"Pagi tadi saya mengontak Dubes Arab Saudi untuk tabayun (klarifikasi). Tabayun ini penting dilakukan kepada pihak yang memiliki otoritas resmi. Kami bertemu siang, dan kami diterima baik di sana," ucap Lukman di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta (Kamis, 4/8).
Dalam pertemuan Lukman menyampaikan tanggapan dan keberatan sebagian besar umat Islam Indonesia dengan rencana pembongkaran makam Rasulullah.
"Dubes memberikan klarifikasi, rencana itu bukan sikap resmi pemerintah Arab Saudi. Berita dilansir media Inggris. Berita itu tidak benar. Pemerintah Arab Saudi sama sekali tidak mengeluarkan rilis itu. Bahkan dubes menyataakan, berita itu sebagai bagian fitnah," jelas politisi PPP ini.
Isu rencana pembongkaran ini pertama kali diungkap The Independent, koran ternama di Inggris. Pada edisi Senin (1/9), The Indipendent muat artikel yang berisi rencana itu. Sumber utama berita itu berasal dari proposal konsultasi yang diajukan akademisi dari Al-Imam Muhammad Ibn Saud Islamic University, Dr Ali bin Abdulaziz al-Shabal.
Dalam proposal setebal 61 halaman itu terdapat usulan penghancuran tempat-tempat suci, salah satunya makan Rasulullah yang terletak di bawah kubah hijau yang terletak di sudut tenggara (kiri depan) Masjid Nabawi, Madina. Alasannya, ada sebagian umat berziarah ke sana justru berbuat syirik. Selanjutnya, sisa-sisa jenazah Rasulullah akan dipindahkan ke pemakaman umum Baqi, yang terletak di sebelah Masjid Nabawi.
Kata Lukman, selama ini memang ada usulan perluasan Masjid Nabawi. Rencana perluasan itu terkait dengan letak makam Rasulullah yang ada di dalam masjid. Sehingga ada usul agar makam Rasulullah dipindahkan.
"Tapi itu bukan keinginan pemerintah Arab Saudi. Kalau ada (rencana), itu hanya usulan," ucapnya.
[dem]
BERITA TERKAIT: