Tentunya, bakal menteri ESDM ke depan harus memiliki bekal lebih dari cukup, mempunyai tekad, dan komitmen yang tinggi terhadap pemberantasan KKN serta memiliki latar belakang perminyakan yang mumpuni.
Di sisi inilah, banyak pihak yang menilai sudah saatnya kursi Menteri ESDM tidak lagi diduduki orang partai, yang lebih-lebih lagi tidak profesional. Apalagi, sektor ESDM harus imun dari penempatan kader-kader partai. Sehingga pendapatan migas yang mencapai Rp 330 triliun per tahun bisa ditingkatkan lagi, dan akan menjadi sumber pendapatan utama negara.
Di tengah ekspetasi ini, kini muncul nama Gde Pradnyana. Dia banyak digadang-gadang oleh berbagai kalangan sebagai sosok yang tepat sebagai pengganti Jero Wacik di Kementerian ESDM. Lulus dengan predikat cumlaude dari Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung (ITB), Gde yang dosen di kampus Ganesha itu melanjutkan pendidikan S2-nya di bidang rekayasa lepas pantai di Oxford University di Inggris. Tahun 1992, pendidikan S3 pun khatam dilalui Gde di Oxford pula.
Usai malang-melintang membangun konstruksi migas dik West Seno, LNG Tanggug, Kerisi dan Belut serta proyek-proyek lainnya, Gde bergabung di BP Migas sejak awal berdirinya di tahun 2002. Bermula dari posisi Kepala Divisi Operasi, Fasilitas dan Konstruksi, karir peraih Adhi Cipta Rekayasa dari Persatuan Insinyur Indonesia (PII) di tahun 2000 tersebut di BP Migas semakin merambah. Menjadi Tenaga Ahli Kepala BP Migas, Kepala Divisi Hubungan Masyarakat hingga dipercaya menjadi Deputi Operasi SKK Migas di tahun 2012.
Ketika badai kasus korupsi Ketua SKK Migas Rudi Rubiandini terjadi, Gde diminta mengemban posisi Sekretaris SKK Migas. Pengagum Bung Karno itu termasuk orang yang low profile, sebab baginya jabatan adalah amanah. Peraih penghargaan Satyalencana Karya Satya dari Presiden Megawati Soekarnoputeri ini punya komitmen yang kuat soal integritas.
Pria kelahiran Klungkung yang kerap menggunakan busway dan kopaja saat ke kantor SKK Migas di Wisma Mulia, bilangan Gatot Subroto, Jakarta ini mencontohkan kepada para karyawan SKK Migas bahwa hidup sederhana jauh lebih mulia ketimbang gaya hidup hedonis namun korup.
[ysa]