"Aspek penting yang harus ada justru tuntasnya pemahaman dan sikap wawasan kebangsaan para calon kabinet ke depan," kata alumni Kelompok Cipayung, Stefanus Asat Gusma, kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Selasa, 5/8).
Gusma memberi contoh. Jokowi lebih baik mencoret nama bakal calon Menteri Dalam Negeri atau Kapolri yang ragu bila ditanya soal ketegasan terhadap ormas-ormas anarkis berlebel agama. Meskipun bakal calon menteri itu bergelar doktor atau jenderal bintang empat.
Jokowi juga, lanjut Gusma, pantas membatalkan bakal calon Menteri Agama yang masih bingung dengan landasan Konstitusional terkait dengan kebebasa beribadah warga Indonesia. Meskipun calon menteri itu dinilai punya pengalaman sebagai tokoh ummat.
"Kalau ada calon menteri-menteri bidang ekonomi yang mazhabnya neoliberal, juga mendingan dibatalkan saja meskipun calonnya juga bergelar profesor dan doktor di bidang ekonomi," tegas Gusma.
[ysa]