Tidak diketahui persis kapan Katibi lahir. Namun sejarah mencatat, filosof muslim yang namanya tidak setenar Ibnu Ruysd (atau di dunia Barat disebut Avveros) dan Ibnu Sina (atau di dunia Barat dikenal Acevina) itu meninggal dunia pada 8 Ramadhan 675 Hijriyah atau pada tahun 1276 Masehi.
Diketahui, filosof yang di tanah Persia dikenal sebagai Ali Dabiran ini, adalah di antara peletak dasar ilmu logika dan metafisika. Di antara karyanya adalah
Hikmat al Ain, yang membahas soal metafisika dan ilmu-ilmu alam. Karya lain beliau di bidang logika adalah
Al Risalah al Shamsiyya dan
Jami al DaqaiqTony Street, dalam
The Cambridge Companion to Arabic Philosophy, menyebut bahwa ilmu logika yang dijabarkan oleh Katibi dipelajari hingga abad ke-20. Tony Street pun berkesimpulan, logika Kaitibi mengikuti alur logika yang telah diletakkan oleh Ibnu Sina.
Katibi, yang juga ahli perbintangan, bekerja di laboratorium milik Nashrudin al Thusi, seorang ulama sekaligus filosof muslim terkemuka. Di laboratoriun al Thusi ini lah ada teropong bintang terbesar dan tercanggih yang pernah dikenal oleh manusia sebelum era modern. Konon, terori helisentris dari Copernicus juga terinspirasi oleh Al Thusi.
[ysa]