Swing voters memang selama ini menunggu dan memprtimbangan sebaik-baiknya. Pilihan mereka pun akhirnya mempengaruhi kenaikan elektabilitas masing-masing pasangan capres
"Kenaikan di kedua pasangan calon disebabkan mulai memilihnya para
undecided voters pada survei kedua," kata dosen Fisipol Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Banten, Leo Agustino, beberapa saat lalu (Senin, 7/7).
Merujuk pada beberapa survei lembaga survei berwibawa dan terpercaya, yang dilakukan mulai awal Mei hingga akhir Juni, Leo pun menyimpulkan pasangan Jokowi-JK masih unggul dibanding pasangan Prabowo-Hatta. Dukungan kepada nomor urut satu memang meningkat, namun dukungan pada nomor urut dua juga naik signifikan.
Contoh survei yang dilakukan oleh LSI. Pada survei pertama 1-9 Mei, pasangan nomor urut satu hanya memeroleh 22,75 persen, sementara nomor dua mendapat 35,42 persen. Pada survei kedua 1-9 Juni, persentase suara pasangan nomor urut satu meningkat menjadi 38,7 persen. Dan pasangan dua juga meningkat menjadi 45 persen.
Menurut dia, selisih yang cukup lebar seperti tersebut di atas disebabkan beberapa faktor. Di antaranya, prestasi yang ditorehkan Jokowi di Solo dan keberhasilannya mengubah wajah Jakarta; pasangan nomor dua ini jauh dari persepsi terlibat kasus korupsi; kesederhanaan dan kemauan Jokowi untuj mendengar keluh-kesah warga; dan ketegasannya yang nampak melalui kebijakan yang pernah dilaksanakan di Solo maupun Jakarta.
[ysa]