Di sisi ini, kata Direktur Eksekutif Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Denny JA, kubu Prabowo harus menemukan cara merespon beredarnya dokumen pemberhentian Prabowo. Cara dan respons ini harus dipercaya publik bahwa Prabowo tak bersalah, sehingga peluang Prabowo-Hatta untuk memang masih terbuka lebar.
Menurut Denny JA, kasus bocornya dokumen pemberhentian Prabowo dan heboh di seputarnya, potensial menghentikan laju dukungan pemilih untuk Prabowo. Dengan merebaknya kasus itu, dukungan Prabowo yang tadinya terus menaik, cenderung stagnan bahkan menurun.
Kata Denny JA, ada tiga alasan mengapa kasus bocornya dokumen itu potensial menurunkan atau membuat dukungan Prabowo akan stagnan. Pertama, kasus penculikan di mata pemilih adalah skandal maha besar, yang efek merusaknya bahkan lebih besar dari korupsi. Jika isu penculikan itu menyebar dan diyakini pemilih, isu itu segera bisa mengubah dukungan dari pro menjadi netral bahkan kontra.
"Isu korupsi Nazarudin saja, karena terus dipublikasi, bisa menurunkan demokrat dari rangking 1 di 2009 menjadi rangking empat di 2014. Isu penculikan itu nyaris menghilang sebenarnya. Namun bocornya dokumen pemberhentian itu justru menambah bobot seriusnya kasus itu. Isu penculikan yang tadinya lebih banyak rumor kini terbuka dengan data dan saksi yang lebih sahih karena dokumen itu," kata Denny JA, melalui akun twitternya, DennyJA_WORLD, pagi ini (Rabu, 11/6).
Alasan kedua, lanjut Denny JA, isu penculikan itu menjadi lebih kuat karena hadirnya "juru bicara" yang berbobot. Mereka menjadi juru kunci kasus. Dua "juru bicara" yang nyaring adalah Agum Gumelar dan Fahrul Rozi, yang merupakan "atasan' Prabowo. Mereka berdua adalah anggota Dewan Kehormatan yang ikut menjatuhkan keputusan untuk memberhentikan Prabowo, dan saat ini, mereka berdua berbicara lugas tanpa beban, serta mengesankan untuk kepentingan publik luas.
"Dalam bahasa Agum, ia harus menyatakan kisah itu dan tak boleh bohong. Jika Prabowo tetap terpilih, itu adalah hal rakyat. Namun kejujuran Agum Gumelar justru menimbulkan perhatian publik yang lebih dalam mengenai kasus penculikan," ungkap Denny JA.
Ketiga, lanjut Denny JA, hadirnya media yang bersemangat menceritakan kasus dokumen dan penculikan itu. Media ini yang membuat kasus ini melambung. Misalnya,
Media Indonesia dan
Jakarta Post yang memuat masalah ini menjadi headline. Berita yabg sama diulang-ulang di
Metro TV.
"Berita ini segera dan langsung dilahap di sosial media, dengan aneka bumbu, joke, yang khas social media. Isu dokumen dan penculikan ini potensial bertahan lama di media karena ada sisi drama yang menarik publik luas. Ada pro kontra di sana, mengenai keraguan Agum Gumelar atas pengakuan Prabowo bahwa ia melakukannya karena disuruh Pak Harto," ungkap Denny JA.
Menurut Denny, drama semakin seru karena keluarga korban yang hilang juga ikut berbicara. Wahyu Susilo adiknya Tukul penyair yang hilang juga aktif bicara. Sementara aneka LSM, media dan aktivis yang concern dengan isu hak asasi tak tinggal diam. Isu pun semakin hot karena nyambung dengan debat capres lalu. Sementara pertanyaan JK pada Prabowo soal hak asasi, dalam debat capres diminta Prabowo untuk ditanyakan langsung kepada atasan Prabowo.
"Kubu Prabowo harus merespon kasus bocornya dokumen pemberhentian dan kasus penculikan itu dgn ekstra hati-hati. Mereka harus menyiapkan jawaban yang matang, terukur, dan bisa diterima pemilih. Jawaban kubu Prabowo yg emosinal, apalagi jika terkesan tidak sesuai dgn fakta, justru akan menambah efek kerusakannya," demikian Denny JA.
[ysa]
BERITA TERKAIT: