Hal ini tentu saja wajar, bahkan menjadi hal yang niscaya, sebab debat itu menjadi cermin pemimpin Indonesia di masa yang akan datang, dan ini sangat penting bagi semua warga negara.
Dalam debat tersebut, menurut Nandang Solihin, yang merupakan mantan pengurus Ikatan Alumni ITB 2007-2012, terlihat jelas Prabowo-Hatta, di segmen pertama, berbicara secara makro. Membahas persoalan secara makro ini memang harus disampaikan seorang pimpinan negara.
"Jokowi berbicara terlalu mikro dan terlalu teknis. Karakterisasi seorang pejabat teknis. Untung JK menolong. Rasanya di segmen ini PS-HR menang," kata Nandang dalam keterangan beberapa saat lalu (Rabu, 11/6).
Di segmen kedua, lanjut Nandang, jawaban Jokowi terlihat normatif dan kurang menjawab pertanyaan dengan pas. Jokowi bermain aman dan menyerahkan kepada JK, dan untungnya jawaban JK bagus.
"Hanya salah posisi, mestinya capresnya JK dan wakilnya Jokowi," ungkap Nandang.
Di segmen kedua ini juga, masih kata Nandang, Prabowo menyampaikan dengan runtut, serta mengakui kekurangan dan kesalahan di negara ini. Dan inilah tugas presiden baru untuk menyelesaikannya.
"Hatta walau singkat jawabanya cukup pas. Di segmen ini mungkin seri. Karena soal waktu bukan ukuran penilaian," demikian Nandang.
[ysa]
BERITA TERKAIT: