Bashar Assad meraup 88,7 persen suara, sementara mantan menteri Hassan Nouri hanya memperoleh 4,3 persen suara dan anggota parlemen Suriah Maher Hajjar hanya mengantongi 3,2 persen suara. Tingkat partisipasi publik dalam Pilpres ini mencapai 73 persen.
Dengan perolehan ini, Ketua Parlemen Suriah, Muhammad Al Laham, sudah bisa memastikan bahwa putera Hafidz Assad ini akan kembali memimpin Suriah.
"Saya menyatakan kemenangan dari Bashar Hafez Assad sebagai Presiden Republik Arab Suriah. Assad menang dengan suara absolut," kata Laham di kantor Parlemen Suriah sebagaimana dilansir
World Bulletin dan
Sky News (Kamis, 5/6).
Dua tahun lebih Suriah berada dalam situasi konflik. Akibat konflik ini sudah banyak nyawa yang melayang dan ratusan ribu orang mengungsi. Karena itu, sementara pihak oposisi menolak Pilpres ini dengan alasan masih dalam suasana konflik.
Ada yang percaya, konflik di Suriah tidak terlepas dari geopolitik. Pemberontakan mencuat setelah Suriah dengan tegas menolak kerjasama dengan Israel. Dengan sikap Suriah ini, negara-negara Eropa dan Amerika Serikat pun turun tangan membantu atau bahkan menggerakkan kelompok pemberontak, yang juga disokong beberapa negara Timur Tengah.
Di sisi lain, Rusia dan Iran membantu pihak pemerintah Assad. Bahkan Rusia sempat mengancam akan mengerakan pasukan bila ada invasi militer ke Suriah dari negara luar.
[ysa]
BERITA TERKAIT: