Bahaya Bila Emosi Presiden Tidak Stabil

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/yayan-sopyani-al-hadi-1'>YAYAN SOPYANI AL HADI</a>
LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI
  • Jumat, 23 Mei 2014, 15:53 WIB
Bahaya Bila Emosi Presiden Tidak Stabil
ilustrasi/net
rmol news logo . Bukan hanya sehat secara fisik yang harus ada pada diri seorang presiden. Presiden juga harus memiliki stabilitas emosi, karakter, intelektualitas dan kompetensi untuk menjadi seorang pemimpin.

"Karena jabatan presiden bukan main-main. Presiden di perusahaan tentu berbeda dengan presiden negara. Tingkat kompetensinya akan lebih tinggi," kata psikolog klinis dan forensik, A.Kasandra Putranto, beberapa saat lalu (Jumat, 23/5).

Menurut Kasandra, sejumlah aspek dalam psikologi itu harus dimiliki presiden dan wakilnya mendatang. Seluruh aspek itu sangat penting untuk mengetahui seberapa jauh kemampuan capres mampu melaksanakan pekerjaan seperti kemampuan berkomunikasi, pengajian keputusan, analisa dan mencari solusi kreatif.

Kasandra pun menegaskan bahwa aspek itu sangat besar pengaruhnya terhadap gaya dan kepempimpinan seseorang dalam memimpin negara.

"Bagaimana seseorang bisa memimpin negara dalam posisi di mata dunia jika tidak memenuhi aspek psikologis seperti memiliki stabilitas emosi, karakter, sikap, dan kepribadian," ujar Kasandra.

Sebelumnya politisi muda PDI Perjuangan, Fahmi Habcy, meminta tim dokter RSPAD membuka kepada publik hasil pemeriksaan kesehatan dan kejiwaan. Hal ini penting karena publik juga harus mendapat informasi yang utuh mengenai kestabilan jiwa calon pemimpinnya.

"Jika kestabilan dan jiwa dan emosi calon presiden tidak diketahui sejak awal. Apakah KPU dan tim dokter RSPAD akan bertanggungjawab jika presiden yang terpilih kelak berperilaku psikopat, megalomania, haus darah ataupun schizofrenia?" kata Fahmi Habcy. [ysa]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA