Pilpres 2014, Jangan Lengah Urus Perekonomian

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ade-mulyana-1'>ADE MULYANA</a>
LAPORAN: ADE MULYANA
  • Kamis, 22 Mei 2014, 15:53 WIB
rmol news logo Ketua Umum Badan Pengurus Pusat (BPP) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), Raja Sapta Oktohari mengingatkan stakeholder perekonomian Indonesia jangan sampai lengah di tengah kontestasi politik Pilpres 2014 yang saat ini berlangsung.

"Kami perlu mengingatkan bahwa ada tantangan perekonomian sangat besar, misalnya penerapan Asean Economic Community, masalah subsidi energy yang tiada habisnya, hingga masalah perburuhan," papar Okto kepada wartawan (Kamis, 22/5).   

AEC 2015 merupakan tantangan nyata yang akan dihadapi para pengusaha Indonesia. Bila para pengusaha tidak mewaspadai hal ini, pasar Indonesia akan menjadi sasaran ekspansi bagi para pengusaha di kawasan ASEAN.

"Indonesia memiliki pasar terbesar di kawasan ASEAN. Jangan sampai pasar ini dinikmatin oleh pengusaha dari luar," imbuh Okto.

Hal ini senada dengan visi misi yang dibawa oleh ke dua pasang calon presiden, yang mengusung tentang kemandirian ekonomi. Oleh karenanya HIPMI mengingatkan siapapun yang terpilih ke depan harus mampu meningkatkan daya saing perekonomian di Indonesia.

"Masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan. Jangan sampai visi misi para capres ini hanya jadi janji-janji belaka. Harus ada langkah konkrit untuk menyelesaikan masalah perburuhan, angka kemiskinan, hingga masalah subsidi energy," ungkapnya.

Terkait masalah subsidi BBM, Okto menggarisbawahi bahwa isu ini telah menjadi masalah laten. Dimana setiap APBN yang disusun jebol, pemerintah selalu menuding permasalahan ini sebagai sumber permasalahannya.

"Masalah subsidi BBM sudah menjadi permasalahan klasik. Kita tidak bisa selamanya dibebani permasalahan ini. Jika misalnya harus dicabut ya dicabut saja. Jika berkutat dimasalah ini, kapan kita akan maju?" ujarnya.

HIPMI mengharapkan pemerintah mampu memberikan kepastian bagi para pelaku perekonomian. Dia menyebutkan bahwa Indonesia memiliki prasyarat untuk menjadi negara maju. Namun sayang banyak permasalahan yang menghambat pembangunan nasional.  Masalah korupsi, perburuhan, pungli hingga birokrasi yang beribet membuat para pengusaha ragu melakukan ekspansi.[dem]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA