Di satu sisi, dia mengatakan bahwa dirinya meragukan data Bank Indonesia (BI), ketika itu dipimpin Boediono, mengenai kondisi Bank Century. Tetapi di sisi lain sebagai Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) Sri Mulyani tetap menyetujui proposal Boediono itu.
"Saya kaget ketika Ibu Sri Mulyani (di depan pengadilan) mengatakan data Bank Indonesia (yang dijadikan dasar mengusulkan
bailout) tidak benar, tidak beres, dan diragukan. Tetapi kenapa ia menyetujui?" ujar ekonom senior DR. Rizal Ramli yang memberikan perhatian serius terhadap megaskandal ini.
"Seharusnya, kalau Sri Mulyani tahu bahwa data Bank Indonesia tidak benar atau meyesatkan, dia menghentikan proses pembayaran
bailout. Tetapi yang kita sama ketahui, dana dikucurkan terus sampai bulan Juli 2009," kata Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Pusat itu lagi.
Menyimak kesaksian tokoh-tokoh kunci ketika kasus itu terjadi, Rizal Ramli menyimpullkan ada upaya bersama untuk melarikan diri dan melepaskan tanggung jawab.
"Mereka bagian dari proses skandal yang merugikan negara yang sangat besar," demikian Rizal Ramli.
[dem]