"Jokowi dan Prabowo Subianto sebenarnya antitesa dari model kepemimpinan SBY. Namun, kepemimpinan Jokowi lebih dilihat masyarakat karena dia efektif, dekat dengan rakyat, dan Jokowi mau mendengar rakyat," kata pengamat politik Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, Mada Sukmajati, beberapa saat lalu (Selasa, 6/5).
Dalam survei SMRC yang dirilis Minggu kemarin (4/5), Jokowi memperoleh dukungan sekitar 64 persen dari pemilih Partai Nasdem, 47 persen dari pemilih Partai Demokrat, 44 persen dari pemilih PKB, 42 persen dari pemilih PA, 40 persen dari pemilih PPP, 38 persen dari pemilih Partai Golkar, dan 36 persen dari pemilih PKS. Bahkan, 16 persen pemilih Partai Gerindra pun akan memberikan suaranya untuk Jokowi.
Mada mengatakan, dimensi kandidat presiden memang akan jauh lebih menonjol ketimbang dimensi partai dalam pemilu presiden. Masyarakat pemilih bakal mempertimbangkan faktor individu kandidat presiden ketimbang asal partai atau partai yang mendukungnya.
Selain itu, lanjutnya, pemilih juga memperhatikan faktor lain seperti masa lalu, rekam jejak, kepribadian kandidat presiden, serta program-program yang ditawarkan. Bahkan pemilih memandang dimensi lain yang lebih personal, seperti kepemimpinan sederhana, bakal menjadi pertimbangan pemilih.
Mada pun menilai hasil survei SMRC itu mengkonfirmasi pemilih Jokowi memang tersebar merata di pelbagai lapisan. Dari sejumlah survei, menunjukkan sebaran pemilih Jokowi masih lebih banyak ketimbang Prabowo.
Misalnya, pemilih Jokowi ada yang berpendidikan tinggi di atas SMA, ada pula pemilih dari kalangan dengan pendidikan rendah. Selain itu, Jokowi tidak hanya disukai atau diidolakan oleh pemilih di perkotaan tetapi juga di pedesaan.
"Generasi era 80-90 bakal memilih Jokowi karena rata-rata dari mereka mengetahui rekam jejak Prabowo pada masa lalu," demikian Mada.
[ysa]
BERITA TERKAIT: