Sebelum dengan Golkar, Gerindra juga tampak bersusah payah membangun rancang koalisi dengan PPP, PKS dan PAN. Bahkan sejumlah kader PAN sempat mendeklarasikan pasangan Prabowo-Hatta Rajasa, dan PKS sempat menyodorkan nama Anis Matta, Ahmad Heryawan atau Hidayat Nur Wahid sebagai bakal cawapres untuk mantan Pangkostrad itu.
Pengamat komunikasi politik Ari Junaedi memperkirakan pasca terjalinnya koalisi antara Gerindra dengan Golkar akan terjadi turbulensi politik baru. PAN yang sejak awal sudah bertekad menyodorkan Hatta Rajasa atau salah satu pemenang Pemilihan Raya (Pemira) PKS tentu harus bersiap kecewa dan sakit hati lantaran Ical pasti mengincar posisi calon RI-2. Dan saat ini, kemesraan Gerindra-Golkar tentu bikin PAN dan PKS sakit hati
"Golkar dengan raihan suara di pemilu legeslatif yang relatif lebih besar daripada PAN dan PKS tentu punya nilai jual yang lebih seksi. Gerindra tidak perlu
ngos-ngosan mencari kekurangan suara. Kalau PPP kan tidak meminta maksimal sehingga tidak
neko-neko meminta posisi cawapres sehingga dengan tawaran jabatan menteri pun pasti mau," kata Ari Junaedi kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Selasa, 6/5).
Menurut pengajar program pascasarjana Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini, masuknya Ical bahkan bersedia menjadi cawapres walau target semula menjadi capres, tentu akan memporak-porandakan rancang bangun koalisi PAN dan PKS dengan Gerindra. Ari pun yakin pembentukkan poros Cikeas akan semakin cepat terbentuk untuk mengakomodasi PAN dan PKS serta memaksimalkan raihan suara Demokrat.
"Hanya saja, PKS atau PAN harus siap dengan tidak mengincar posisi cawapres agar calon yang diajukan koalisi Cikeas bisa menandingi poros Jokowi dan Prabowo. Andai saja pemenang konvensi Demokrat adalah Dahlan Iskan atau Anies Baswedan dan PAN mau mengalah untuk Hidayat Nur Wahid maka pasangan ini menjadi ancaman yang potensial bagi Prabowo-Ical atau Jokowi-JK misalnya," ucap Ari Junaedi.
Oleh karena itu, dalam pandangan dosen S2 Komunikasi Politik di Universitas Dr Soetomo (Unitomo) Surabaya dan Universitas Persada Indonesia (UPI YAI) Jakarta ini, perlu
kelegowoan dari elit-elit parpol untuk mengalah demi kemenangan.
"Ical saja mau melepaskan
boarding pass-nya pencapresan masak Pramono Edhi Wibowo atau Hatta Rajasa tetap ngotot maju walau peluangnya tipis. Untuk menghadapi kedigjayaan Jokowi dan Prabowo, kiranya perlu pilihan alternatif baru," demikian Ari Junaedi.
[ysa]
BERITA TERKAIT: