Perang Fatwa Kyai Tak Otomatis Antarkan Capres Mampu Dulang Suara

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/yayan-sopyani-al-hadi-1'>YAYAN SOPYANI AL HADI</a>
LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI
  • Senin, 05 Mei 2014, 09:15 WIB
Perang Fatwa Kyai Tak Otomatis Antarkan Capres Mampu Dulang Suara
ilustrasi/net
rmol news logo . Peranan kyai sebagai vote getter, moral legitimacy ataupun sebagai juru kampanye, mengalami degradasi dan peralihan peran, dari politik otoritas ke politik kemandirian rakyat.

"Perang fatwa, kompetisi sowan dan saling berlomba perbanyak tim Kyai, tak otomatis mengantarkan capres mampu mendulang suara," kata pengajar di President University yang juga penulis buku Kyai di Panggung Pemilu Presiden; Dari Kyai Khos sampai Kyai High Cost, Munawar Fuad, dalam keterangan beberapa saat lalu (Senin, 5/5).

Secara empirik, Munawar Fuad, menggambar situasi politik di 2004 dan 2009. Pengalaman berharga dalam Pilpres 2004 dan 2009 menunjukkan, bahwa kemenangan SBY-JK yang dalam jajaran timsesnya tak ada nama ulama atau kyai berhasil memenangkan Pilpres di kantong dan basis pesantren.

Sementara, gerbong besar kyai, ulama dan habaib, yang berada dalam barisan Timses Mega-Hasyim dan Wiranto-Sholahuddin Wahid, bahkan Hamzah Haz-Agum Gumelar, tak mampu mendongkrak keterpilihan mereka dalam Pilpres 2004.

"Sebagai cerita pengingat, bagaimana Fatwa Madinah yang ditandatangai 25 kyai khos di depan Ka’bah dapat diimbangi dengan secarik kertas fatwa ulama Madura yang bersifat perseorangan," demikian Fuad. [ysa]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA