Pertanyaan ini dijawab pengajar di President University yang juga penulis buku
Kyai di Panggung Pemilu Presiden; Dari Kyai Khos sampai Kyai High Cost, Munawar Fuad. Jawaban atas pertanyaan itu, ungkap Fuad, sangat bergantung pada kemampuan menata strategi terpadu dan canggih, dan bukan semata
sowan dan silaturahim.
"Pelajaran terpenting dari Pilpres 2004 dan 2009 adalah bagaimana kemampuan memadukan tradisi
sowan dan silaturahim dengan strategi operasi serangan darat, udara dan laut berbasis sosial-scientifik yang obyektif, tepat sasaran dan terukur dengan survey ilmiah," kata Munawar Fuad dalam keterangan beberapa saat lalu (Senin, 5/5).
Setiap kyai, kata Munawar Fuad, patut diukur tingkat pengaruh, frekuensi efek dan kemampuanya mempengaruhi dan menggerakkan kekuatan suara. Belum lagi diperlukan strategi pemetaan kewilayahan yang jitu dan jeli dalam melihat peran, posisi dan pengaruha kyai.
"Kyai yang tinggal di kawasan Madura akan berbeda dengan kyai mataraman di Tapal Kuda," ungkap Munawar Fuad.
[ysa]
BERITA TERKAIT: