Pimpinan Buruh Jangan Tiru Sikap Munafik Pimpinan Partai!

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/yayan-sopyani-al-hadi-1'>YAYAN SOPYANI AL HADI</a>
LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI
  • Jumat, 02 Mei 2014, 07:31 WIB
Pimpinan Buruh Jangan Tiru Sikap Munafik Pimpinan Partai<i>!</i>
said salahuddin/net
rmol news logo . Pemimpin partai politik terlihat munafik dengan mengatakan tidak akan melakukan politik dagang sapi atau menyatakan tidak akan mengajukan syarat apapun atas dukungan yang diberikan oleh partainya kepada seorang capres.

Sikap pura-pura ini, kata Direktur Eksekutif Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi (Sigma) Indonesia, Said Salahuddin, tak perlu ditiru pimpinan buruh. Para pimpinan tak meniru politik kancil ala pimpinan parpol yang demikian itu. Pimpinan buruh harus lebih berani mengutarakan kejujuran dan berterusterang mengatakan bahwa dukungan buruh kepada capres adalah untuk mendapatkan kursi kabinet.

"Itu lebih gentle dan bermartabat," kata Said Salahuddin kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Jumat, 2/5).

Apabila pimpinan buruh menjadi menteri, lanjut Said, maka agenda untuk menyejahterakan kaum buruh akan lebih mungkin dimplementasikan. Dan buat apa juga buruh mendukung capres kalau ujung-ujungnya menteri tenaga kerja, menteri perdagangan, dan menteri perindustrian diisi oleh  orang-orang yang pro upah murah dan pro-outsourcing.

"Kalau mereka sungguh-sungguh ingin memperjuangkan kaum buruh, seharusnya pimpinan buruh lantang mengatakan: Ya! Kami akan rebut pos-pos kementerian yang terkait langsung dengan nasib kaum buruh. Itu baru namanya pejuang," tegas Said.

Jadi, lanjut Said, pimpinan buruh seperti Ketua Umum KSPSI Yorrys Raweyai yang juga adalah kader Partai Golkar, misalnya, harus berani mengatakan hal itu ketika kelompoknya akan mendukung ARB menjadi Presiden. Begitu pun dengan KSPSI pimpinan Andi Gani Nena Wea yang merupakan kader PDI-P bersama Presiden KSBSI Mudhofir yang sudah lebih awal mendeklarasikan dukungan kelompoknya kepada Jokowi. Hal yang sama berlaku bagi Presiden KSPI Said Iqbal yang mendukung Prabowo.

Dengan menyatakan sikap yang jujur semacam itu, masih kata Said, mungkin saja akan muncul cibiran atau tudingan bahwa pimpinan buruh dianggap haus kekuasaan, pragmatis, dan lain sebagainya. Tetapi dalam suatu perjuangan, pandangan negatif yang semacam itu adalah hal yang lumrah dan tidak boleh sekali-kali melemahkan semangat juang kaum buruh.

"Namun apabila kelak pimpinan buruh menjadi menteri, tetapi ternyata dia ingkar pada komitmennya untuk menyejahterakan rakyat, maka seluruh buruh di Indonesia tinggal menyiapkan tiang gantungan untuk mengazab pimpinan buruh yang semacam itu," demikian Said. [ysa]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA