Adapun pernyataan-pernyataan yang berseliweran dari sejumlah petinggi PDI Perjuangan belakangan ini belum bisa disebut mencerminkan pendapat Megawati. Pernyataan-pernyataan itu masih lebih sering bertolak belakang, dan merefleksikan ritme politik yang begitu dinamis di tubuh partai berlambang banteng bermoncong putih itu. Bahkan, belakangan mulai mengisyaratkan pertarungan kepentingan yang semakin tajam.
Informasi yang diperoleh menyebutkan bahwa Megawati pun masih ingin mendengarkan masukan dari kalangan keluarga Bung Karno. Pertama, mengenai penetapan Joko Widodo sebagai calon presiden PDIP. Kedua, bila penetapan Jokowi sudah final, maka mengenai siapa yang pantas mendampinginya.
Sudah diketahui bahwa penolakan keras terhadap keputusan Mega memberikan mandat sebagai calon presiden PDIP dalam surat perintah harian yang diteken 14 Maret lalu mendapat perlawanan dari Guntur Soekarnoputra dan Guruh Soekarnoputra. Keduanya berpendapat bahwa Jokowi bukan figur yang pantas.
Mereka juga mempertanyakan faktor Jokowi dalam pemilihan anggota legislatif lalu yang terbukti tidak berarti signifikan.
Masih ada keinginan di pihak keluarga untuk mengingatkan Mega tentang potensi masalah yang akan mendera PDIP bila tetap mencalonkan Jokowi.
Juga disebutkan bahwa dalam waktu dekat keluarga akan mempertemukan Mega dengan seorang tokoh yang dinilai lebih pantas untuk menjadi capres, dan sebetulnya memiliki kedekatan dengan PDIP serta keluarga Bung Karno. Serta yang lebih penting memiliki komitmen kuat dan teruji dalam memperjuangkan ajaran Trisakti Bung Karno.
Bila tidak memungkinkan menarik mandat, keluarga ingin agar tokoh inilah yang mendampingi Jokowi dalam pilpres mendatang.
[dem]
BERITA TERKAIT: