"Dukungan resmi PPP terhadap pencapresan Prabowo itu terlalu tergesa-gesa. Saya sungguh tidak habis pikir dengan sikap dari kelompok SDA tersebut," kata pengamat politik Said Salahuddin kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Senin, 21/4).
Menurut Said, sikap kelompok SDA itu bisa dikatakan bertolakbelakang dengan
khittah PPP sendiri sebab hakikat perjuangan, cita-cita politik, dan jati diri partai itu seolah lenyap. Tagline PPP sebagai "Rumah Besar umat Islam" pun seolah menjadi slogan tanpa arti. Padahal PPP seharusnya menjadi motor penggerak untuk membangun blok politik Islam.
"
Loh kok ini justru sebaliknya?" kata Said, yang juga Direktur Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi (Sigma).
Said menggarisbawahi, sebetulnya bukannya tidak boleh PPP atau parpol Islam yang lain mendukung capres dari kelompok nasionalis, seperti Prabowo atau Jokowi. Tetapi semestinya PPP dan parpol Islam lainnya terlebih dahulu mengoptimalkan gagasan untuk membentuk blok politik Islam sebagai bentuk penghormatan dan respons atas aspirasi kelompok pemilih Islam
"Sebab, ditinjau dari sisi raupan suara dan ketersediaan tokoh yang bisa dimajukan sebagai capres-cawapres, parpol-parpol berbasis massa Islam ini punya modal besar untuk menandingi capres dari parpol-parpol nasionalis," demikian Said.
[ysa]
BERITA TERKAIT: