Demikian disampaikan politisi PDI Perjuangan, Fahmi Alhabsy. Fahmi pun mengingatkan, logika Jokowi yes dan PDIP no, dengan memilih Jokowi saja dalam Pilpres tanpa memilih PDI Perjuangan dalam pileg 9 april bagaikan ingin mendapatkan sebuah bunga yang indah tapi tidak mau menanam dan memupuk. Dan tentu saja, harapan rakyat dan publik ingin Jokowi menang pilpres akan sulit terwujud tanpa melalui proses kemenangan besar PDI Perjuangan dalam pileg melebihi 30 persen suara itu.
Fahmi pun menjelaskan, adanya kelucuan dari agenda anomali elit parpol tertentu ini. Di satu sisi, tidak menginginkan PDI Perjuangan menang signifikan dalam pileg 9 April, tapi juga tidak menginginkan capres yang diusung mereka menang pilpres Juli nanti.
"Pertarungan dalam internal tubuh parpol ini realistis dan meyakini bahwa capres yang diusungnya sulit memenangkan pilpres, tapi juga tidak siap jika harus kehilangan kesempatan masuk kembali dalam koalisi seandainya Jokowi memenangkan pilpres," kata Fahmi kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Sabtu, 5/4).
Ia menambahkan jika PDI Perjuangan bisa ditekan suara perolehannya dalam pileg nanti, akan membuat parpol ini membuat posisi tawar mereka dengan PDI Perjuangan dalam pilpres menjadi tinggi. Namun bagi agenda perbaikan bangsa ini menjadi sangat tidak strategis, seandainya harapan rakyat saat ini bahwa koalisi kedepan yang dibangun adalah menyamakan platform Trisakti menuju Indonesia baru, dan meninggalkan politik dagang sapi yang dilakukan periode sebelumnya yang terbukti tak efektif.
"Publik harus memahami bahwa tidak ada kemenangan Jokowi dalam pilpres, tanpa kemenangan besar PDI Perjuangan empat hari lagi. Dukungan publik dan rakyat pada PDI Perjuangan dalam pileg 9 April nanti menjadi kunci harapan bagi pencapresan dan kemenangan Jokowi dalam pilpres kelak, " demikian Fahmi.
[ysa]
BERITA TERKAIT: