Menyikapi hal ini, deklarator PDI Perjuangan Pro-Jokowi, Fahmi Habsyi, mengatakan bahwa sejak pencapresan Joko Widodo kemarin maka dikotomi PDIP Pro-Mega dan PDI Pro-Jokowi sudah tidak relevan lagi. Sejarah mencatat yang menang hanya Megawati Soekarnoputri, PDI Perjuangan dan Trisakti negeri ini.
"Wajar saja ada Pro Jokowi, Pro Mega, Pro Puan, Pro Hasto atau apapun istilahnya sebagai sifat dan sikap politik di internal ketika belum diputuskan oleh Bunda Mega sebagai sebuah dialektika pencapresan," kata Fahmy kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Sabtu, 15/3), sambil mengutip pernyataan Thomas Jefferson;
I like the dreams of the future better than the history of the past.
Pasca keputusan Megawati, kata dia, otomatis loyalitas yang ada hanya satu kader dan simpatisan PDI Perjuangan dalam rampak barisan komando, atau boleh dikatakan sebagai Pro Mandat Bunda Mega (PMBM) yang merangkum tiga hal sekaligus untuk memenangkan Pileg, Jokowi dalam Pilpres dan melawan kecurangan pemilu maupun pilpres untuk mencapai kemenangan besar dan Trisakti.
"Sekarang semua kader PDI Perjuangan tetap solid untuk menghadapi ancaman dan homework terbesarnya PDIP. Bukan lagi Pro-Jokowi atau Pro-Mega, tapi upaya-upaya kecurangan dalam operasi-operasi siluman yang machiavelis memakan demokrasi bangsa ini. Saya akan temui Mas Bido untuk mendiskusikannya karena bagaimanapun sikap politik dan militansi Bido juga harus dihargai," demikian Fahmy.
[ysa]
BERITA TERKAIT: