KAMI disambut hujan salju dan angin dingin menusuk kulit saat tiba di Detroit, Michigan, 30 Januari lalu. Kami menginap di hotel di pusat kota Detroit nan sepi. Bisa jadi itu karena kota ini dilanda krisis ekonomi ditambah lagi sudah sore, jam berakhirnya kegiatan kantor.
Kegiatan baru dimulai esoknya. Kami mengunjungi kantor Zaman International, organisasi yang menyediakan kebutuhan dasar untuk perempuan dan anak-anak. Pelayanannya mencakup penyediaan makanan, pakaian, tempat tinggal sementara, pemakaman untuk bayi dan pelatihan untuk perempuan agar dapat membantu diri mereka sendiri.
Meski anggota Zaman International merupakan perempuan Muslim yang umumnya sudah berumah tangga. Mereka membantu orang-orang berbeda keyakinan. Wilayah pelayanannya di AS dan sekitarnya hingga negara lain. Zaman ikut menyediakan air bersih untuk 42 ribu anak-anak dan orang dewasa Kenya Utara serta di Selatan dan Somalia Tengah.
Di Zaman International kami sekitar dua jam. Lalu melanjutkan makan siang di rumah makan ala Timur Tengah. Porsi makan di sini banyak dan tidak lumrah bila meminta porsi setengah.
Yang menarik adalah daftar menunya. Untuk daging-dagingan seperti steak, dituliskan yang kira-kira maksudnya memperingatkan pelanggan atas masalah kesehatan jika memakan daging yang tidak matang. Peringatan seperti itu sangat umum di restoran di AS.
Hal itu untuk berjaga-jaga. Sebab, pelanggan bisa saja melaporkan ke polisi, apabil sakit setelah makan di restoran. Dan restoran bakal dinyatakan salah karena tidak menyampaikan peringatan.
Selain itu, kebiasaan memberi tips harus diperhatikan juga. Jika makan di rumah makan yang notabene pelanggang dilayani. Tipsnya 15-20 persen. Meski tidak diatur Undang-Undang, tips merupakan salah satu budaya di AS. Jika makan di restoran cepat saji, yang tidak dilayani, pelanggan harus membuang sampah makan sendiri.
Setelah makan, kami menuju American Muslim Center di kota yang sama. Di sana kami melaksanakan shalat Jumat. Ibadah ini tidak hanya diikuti laki-laki. Perempuan juga hadir mendengarkan khotbah dan shalat dua rakaat. Lima puluh orang kira-kira hadir di sana.
Pada hari itu tema khotbahnya mengenai kebanggaan terhadap Islam. Si penceramah menggunakan Bahasa Arab dicampur Bahasa Inggris. Dia mengingatkan, orang Muslim harus bangga dengan ke-Islamannya meski menjadi warga minoritas.
Menurut pendakwah itu, umat jangan takut menyatakan identitasnya sebagai Muslim dan harus bangga. “Jika Anda sedang puasa, dan teman Anda yang non-Muslim mengajak makan atau minum, jangan takut bilang saya Muslim dan saya sedang berpuasa,†katanya.
Ibadah berlangsung 30 menit. Dari sana kami kembali bertemu anak muda di organisasi Muchigan Roundtable for Diversity & Inclusion di Detroit. Organisasi ini berdiri pada 1941 yang bergerak untuk mengkampanyekan keberagaman dan mengkampanyekan anti rasisme.
Dari sana pertemuan berlanjut menghadiri makan malam dengan Young Muslim Association di Islamic Center di Dar. Mereka menjamu dengan pizza dan makanan Timur Tengah. Posisi Islamic Center ini dekat dengan Gereja Luther, Gereja Armenia dan tempat ibadah agam lain. Wow inilah
e pluribus unum atau alias Bhinneka Tunggal Ika ala Amerika. [***]